Pages

Monday, October 3, 2016

fragmen 1

Dia adalah burung elang. Perempuan bermata tajam. Aku jarang bertemu dengannya walau ada di satu lingkungan yang sama. Kami tak pernah bertegur sapa, namun setiap kali aku memiliki waktu untuk bertemu dengannya, hadirnya bagai sayap elang yang terbentang megah. Segan aku mendekatinya.

Tak banyak yang bisa aku deskripsikan mengenai dirinya. Hanya seorang gadis tomboy dengan rambut sebahu dan agak urakan. Sering berkumpul di depan bengkel desain produk ataupun warung di belakang kampus dengan banyak laki-laki. Sepertinya ada seseorang yang dia sukai disana, aku bisa melihat dari senyum malu-malunya walau ditutupi oleh gengsi dari kedua alisnya yang meruncing.

Hari ini aku berpapasan dengannya, ia menunduk dengan menatap tajam ke aspal sepeti aspal itu adalah musuhnya. Ya, tentu saja, elang seharusnya terbang. Mengapa kau tak mengepakkan sayapmu, nona?
Perempuan itu bernama Aya dan lelaki itu bernama Satria. Mereka duduk di depan bengkel desain produk bersama beberapa teman lainnya. Penampilan mereka semua hampir sama, rambut yang tak disisir rapih, diikat sembarangan, maupun ditutupi oleh topi. Kaos hitam maupun berwarna belel. Mereka bukan gelandangan, hanya sekumpulan mahasiswa dan mahasiswi desain tahun ketiga, tahun dimana mengurus diri bukan hal yang utama melainkan menyelesaikan mata kuliah sesegera mungkin.

Aya tidak pernah memiliki pandangan yang sama terhadap Satria, Aya selalu menyembunyikan tatapnya tiap kali bertabrak pandang dengan Satria, namun keduanya sama-sama gengsi. Mereka menutupi sesuatu dari diri dunia, bahkan dari dirinya masing-masing.

Aya menikmati masa-masa menghabiskan waktu di depan bengkel desain produk dengan teman-teman lintas jurusannya itu. Sayap elang milik Aya mengembang.

Pada hari-hari setelahnya, aku masih sering melihat Aya. Aya masih jadi seorang gadis ceria, namun tak dapat menyembunyikan pandangannya yang selalu tampak siaga. Entah apa yang membuat aya merasa terancam sehingga harus waspada seperti itu. Dia berjalan diantara kawanan srigala. Teman-temannya dari jurusan desain produk, lelaki-lelaki gondrong itu. Aya, seekor elang diantara serigala. Ah, Ayaku... Eh, tunggu dia hanya Aya, Aya yang bukan milikku. Tidak akan pernah jadi milikku.

Aya pulang ke rumahnya, rumah peninggalan neneknya yang kini hanya dihuni oleh ia dan ibunya. Ia merebahkan badannya di kasur membiarkan cahaya mentari sore singgah di kamarnya. Namun ia enggan menatapnya. Ia memeluk lutut.

Elang yang ada dalam sangkar.

Sebuah pagi hadir diantara kedua mata elang yang masih terpejam itu. Bayang sekilas tentang tangan yang berusaha meraih dan punggung yang menjauh. Kotak yang ditutup dan kapal kertas yang diterbangkan dari atap gedung namun terjatuh. Mata elang itu terbuka membealak sejenak sebelu akhirnya pada ukuran aslinya yang menajam. Aya duduk di tepian kasurnya, berusaha mendapatkan kesadarannya penuhnya dengan telapak tangannya menutup muka.

Ruang makan yang sepi dan meja makan dengan tudung saji ditengah-tengahnya. Aya membuka tudung saji tersebut, selembar kertas dua puluh ribu dengan sebuah notes kecil ‘makan siang’ terdapat disana. Cukup lama sebelum Aya menghela nafas lalu kemudian mengambil uang tersebut dan memasukannya ke dompet.

Aya meninggalkan rumah.

Di sebuah cafe Aya duduk dengan secangkir creme brulee miliknya sambil melihat-lihat hasil cetakan fotonya. Seorang pria melewati bangkunya dan duduk di bangku belakang Aya.
       
  
 bersambung...

---

hai, since i didn't have a love life story to tell, saya akan mulai menulis cerpen bersambung di blog ini. entahlah, sudah sejak lama saya ingin menulis, tetapi selalu terhalang dengan tata cara penulisan, mood, dan ketakutan akan komentar orang soal cerpen saya. namun sekarang saya akan memberanikian diri menulis, karena menulis itu tidak dilarang. dan oh ya, ini cerita fiksi ya, jika ada kesamaan tokoh, nama, jalan cerita, itu bukan kebetulan hahaha. every single words that spoken was inspired me to write this down into short-story, but sure, with a twist of my imagination of course. so i will keep on writing! see you next week. oiya saya belum menentukan judul untuk cerpennya, nanti saja lah ya kalau sudah beres ceritanya hehe. 









ps : bukit, you're always be my inspiration. semoga petapaanmu membuahkan hasil. semoga dengan kita berpisah kamu tak perlu lagi pusing menangani aku yang selalu rewel minta ditemani. pintu rumahku tak pernah dikunci untukmu, pulanglah kapanpun kamu mau. love you! 



sincerely, ilalang
3 oktober 2016
bandung, yang katanya lagi dingin-dinginnya.

Wednesday, September 28, 2016

kecemasan tengah malam

aku menyukai sepi. tapi aku tidak suka merasa kesepian. dari dulu aku selalu mengeluh akan ketakutanku akan kesepian; masa-masa dimana aku tidak memiliki sesorang untuk berbagi hidup. bersama bukit, keramaian menjadi sepi, hanya mejadi aku dan dia, tak ada yang bisa mengalihkan perhatianku padanya, mengalihkan pandanganku darinya. aku tak mampu, lagi tak ingin.

pada suatu ketika dimana kami mencoba memberikan ruang, aku mencoba sedikit menrenggang dari pelukannya, melihat ada apa saja di sekitar, ada siapa saja di sekitar. lalu ku coba mengintip, banyak sekali orang, banyak, ramai. aku tidak suka keramaian. ramai yang kurasa brbeda dengan hanya dengan berbicara dengan bukit seharian. aku suka ramai yang hatiku rasa bersama bukit. namun, aku takut keramaian. semua orang-orang ini menyapaku, menanyaiku, hal-hal yang tak ingin aku bagi kecuali dengan bukit...

bukit....?



dimana kamu?
bukit....?



oh ya, bukit masih disini membiarkan aku menatap punggungnya. dia tidak pergi, dia masih disini. tapi aku tak bisa selalu memintanya untuk hadir. karena dia menyukai sepi, sepertiku. namun sekarang, semenjak bukit mengisi hariku, sepi dan kesepian tak ada bedanya. aku tidak menyukai keduanya. aku selalu membutuhkan bukit... iya, bukit ada di sini. tidak kemana-mana. namun aku hanya bisa memeluknya dari belakang, tanpa bisa kulihat ramai di matanya dan hangat senyumnya. 

punggung yang dingin, yang selalu ingin kupeluk erat agar hangat. oh bukit, semoga engkau lekas sembuh. kepada doa-doa yang terucap, harapan-harpan yang tersurat, dan bunga-bunga abadi dalam hati.... semoga kita dapat disegerakan kepada jalan yang lebih direstui Yang Maha Kuasa. karena ku yakin kesepian itu tak akan lagi menemukan maknanya ketika aku, kamu, yakin betul bahwa ada aku, ada kamu, menunggu di depan pintu dengan cincin kembar melingkar di jari manis. 






dan hidup bahagia selamanya adalah misi selanjutnya.









ilalang,
bandung, 29 september 2016 | 00:37
diiringi album ontario gothic - foxes in fiction

Saturday, July 16, 2016

in the middle of nowhere

kuputar lagu itu pada repetisi paling pedih
ku berdandan dengan maskara yang terlebih dulu luntur
ku biarkan bibirku tidak terpoles, seperti sesederhana yang kau suka
ku kenakan dress hitam yang kau bilang sangat pantas jika aku mengenakannya

senyum ini begitu ingin hadir
namun berat tersapu air mata
bibir ini gemetar akibat tidak dapat membendung keduanya
di tengah lantai ruang tengah kuputar repetisi lagu itu

denting piano mulai bergema
menusuk kedalam rongga hati yang kini entah apa bentuknya
aku mengambil posisi untuk berdansa berdiri di hadapanmu
seperti biasanya... seharusnya

kakiku mulai bergerak mengikuti irama
piano berdenting lambat yang selalu mencipta romantisme diantara kita
lagu tentang perpiashan namun selalu menjadi favorit kita
namun kini tanpa kau sebagai pasangan berdansaku
aku berdansa dengan bayangan...

bayangan tentang kamu yang dulu
yang begitu hangat dan ceria
begitu menyayangi aku sampai kau menitikkan airmata jika perpisahan terucap
bahkan jika hanya wacana, kau tidak mau mendengarnya
kau tidak mau kehilangan aku

gerakan dansaku mulai melambat
tubuh ini begitu berat menanggung beban imaji tentang kau
yang seharusnya ada disini memelukku erat
harum tubuhmu akan memenuhi paru-paruku hingga terasa damai

semerta air mata semakin deras mengalir
kamu tidak ada disini
kamu tidak lagi menenangkanku ketika sedih
yang menyeka air mataku lalu memelukku
dan mengatakan semua akan baik-baik saja

kamu melangkah menuju jenjang hidup barumu
sedangkan aku yang pernah ada disana
telah kamu tarik mudur untuk kembali merasakan cinta picisan
yang manja dan puitis namun akhirnya aku menyadari
itu yang selama ini tidak aku dapatkan dari yang lain
hanya kamu... dan sekarang kamupun tidak menginginkannya lagi

dilantai aku meringkuk kehilangan
masa depan itu kian buram..
yang dulu kita rancang sebegitu nyata
yang kita sebut-sebut dalam doa
kini dihalau dengan alasan mayoritas orang
padahal kamu tahu, kita ini berbeda

tidak akan ada yang mengerti rasanya jadi kau
rasanya jadi aku, dan perasaan kita berdua
kini kita hanya akan jadi debu-debu yang berterbangan
kita tidak ada bedanya dengan yang lain
kita yang benar-benar kita telah menemui ajalnya

tangisku tidak bersuara
sakitnya hanya ada di dalam dada
semua yang telah terlewati harus disudahi
dilupakan, dikubur dengan nisan bertuliskan kenangan
namun awal yang baru selalu lebih menakutkan

kamu tidak pergi...
namun kamu membatasi kita
apakah perasaanmu juga begitu?
jika ya, aku kini sudah jadi raga tanpa jiwa
karena aku kehilangan jiwa yang membuatku hidup
yang kau ambil kembali kini

tanpa masa lalu, tanpa masa depan
engkau menyodorkan tanganmu agar aku bangkit dari tangisku
kau bilang kau akan selalu bersama ku
tapi kini, kita tidak akan kemana-mana
kita hanya punya tangan yang saling menggenggam ini

















namun terasa dingin









Bandung, 4 Juli 2016
Ilalang

Thursday, June 30, 2016

senyap yang melenyapkan

pernahkah kamu merasakan kehilangan sebelum kepergian?
perasaan ditinggal pergi sebelum dia benar-benar menghilang
jalan yang dahulu lurus dengan pintu terang yang menjelang
kini berubah menjadi ribuan persimpangan dengan berjuta pertimbangan.

pergelangan lenganmu yang kudekap agar tidak merasa takut
hangat punggungmu pada setiap perjalanan pulang yang larut
harum pundakmu ketika kusandarkan keluh lelahku
dan hati yang besar menerima segala kekuranganku

aku tidak tahu, apakah aku siap bila harus kehilanganmu
berjuang denganmu adalah setapak penuh tantangan namun indah dijalani
apa yang membuatmu ragu? kita telah melalui hari yang lebih gelap dari ini
tapi kini... perasaan ditinggalkan itu mulai menghantuiku

seakan bunga yang enggan mekar walau embun telah menyapa
tetesnya tak akan lagi terasa, hanya akan tergelincir jatuh ke tanah dan tamat
pagi tak lagi indah. segala hal yang mengiringi matahari terbit hanyalah sepi.
apakah yang terasa bagi kita seperti itu sekarang?

pada bisingnya pikiran di tengah malam
pada langkah ragu mu yang kian lelah
segala harapku tersendat ditenggorokan
aku merasa takut jika harapanku adalah yang menghalangi langkahmu

kepada sepinya jalan diluar pada pukul satu dini hari
aku meringkuk di sudut kamar, bukan karena kedinginan
namun sebuah ketakutan besar akan kehilangan
sesosok sempurna bagi hatiku yang kuharap jadi yang selamanya










tak terbayangkan jika harus benar-benar hingga kehilangan










nampaknya aku akan tamat
lenyap dimakan senyapnya hati
tanpa tahu lagi apa hadirku memiliki arti 














01:10
01/07/2016
ilalang

Saturday, June 25, 2016

kesenangan dan keterasingan

aku selalu suka menjadi asing untuk sejenak
menjadi seorang "aku" yang baru tanpa membawa kemarinku.
bertemu dan menyapa wajah baru tanpa namanya untuk ku tahu.
terus menapak jejak walau ia akan membawaku kepada... entahlah

dan aku suka mengabadikan tempat asing itu pada pita seluloid
seakan tak akan lagi kutapaki untuk kedua kali pada selama-lamanya.
keterasingan membuatku menjadi baru dan perasaan itu tak kan bisa tergantikan
ketika segala beban tak mengikat langkahku untuk terus melebarkan senyuman.

entah aku yang asing, atau tempatnya yang asing
keduanya membuatku benar-benar bersemangat
karena aku dikelilingi orang-orang tanpa stigma kepadaku
dan tempat-tempat tanpa kenangan yang tidak ingin dikenang
walau pada akhirnya ketika aku kembali pada kehidupanku
itu semua akan jadi kenangan dalam gambar dalam pita

bagian terbaik dengan menjadi asing,
bahagia hanya soal memperhatikan dan mensyukuri hal-hal sederhana
tanpa masa lalu, tanpa masa depan
keterasingan adalah kesenangan bagiku

ilalang,
bogor 24 juni 2016


Monday, April 4, 2016

semoga...

kini biar kutelan semuanya. kita... telan semuanya. semua rasa sayang yang harus kita kurung di dalam relung. semua kata rindu yang harus kita tahan di tenggorokan. saat perpisahan itu benar-benar dengan serius terucap, aku masih menganggap tidak akan mungkin kita berpisah. namun kamu bersungguh-sungguh dan merasa cukup dengan semua perdebatan yang telah kita lalui. satu hari, dua hari, aku masih shock dan menganggap ini semua hanya mimpi. namun ternyata tidak. ada lubang besar di dadaku, semestaku tak ada lagi. seiring air mataku tak hentinya selama tiga malam, aku benar-benar kesepian. aku baru saja kehilangan hal terbaik yang pernah kudapatkan seumur hidupku.

penyesalan pun sudah tidak ada artinya lagi, kamu telah menaiki tangga hidupmu, memutuskan untuk hidup dalam pengabdian kepada Tuhan. tanpa aku mendampingi. tanpa aku untuk didampingi. setelah penjelasan yang kamu katakan panjang lebar di mobil, yang dengan sabar kamu jelaskan, walau berulang-ulang. aku hanya perlu yakin, kamu masih tempatku pulang dan akupun masih akan jadi tempatmu pulang. insyaallah-mu adalah kekuatanku untuk terus berjuang memperbaiki diri. memantaskan diri agar bisa bersanding di waktu dan tempat yang tepat bersama orang sebaik kamu. karena kamu adalah satu-satunya orang yang ingin aku persembahkan hidupku untuk mengabdi, mendampingi, dan menjadi sebaik-baiknya rumah untuk berpulang. aku tidak akan menuntut apa-apa selain percaya. percaya bahwa aku sangat menyayangimu, yang  dengan sepenuh jiwa aku katakan, "aku hanya menginginkanmu, Bukit, tidak ada dan tidak akan ada yang aku inginkan dan aku butuhkan selain kamu". kalaupun memang jalan terbaik sekarang adalah seperti ini, semoga kita dapat dipertemukan lagi dalam keadaan yang lebih baik dan lebih diridhai oleh-Nya. Aamiin.

kepada kamu yang kini berjuang sendirian tanpa bisa aku semangati, kepada aku yang berusaha sembunyikan tangis dibalik senyum tanpa kamu yang menyeka air mataku, tetaplah di dalam jiwa. semoga sementara dengan tujuan. semoga kamu selalu sehat, sukses, dan bisa mencapai apa yang ingin kamu persembahkan kepada kedua orangtuamu. semoga selalu diberikan perlindungan dari malam-malam sepi yang menusuk dengan beribadah. semoga kamu selalu baik... kita selalu baik. aku menyayangimu selalu, selamanya...

sincerely,
ilalang.

Saturday, March 12, 2016

kepada kita yang tidak sempurna

aku mencintaimu, lengkap dengan ketidak sempurnaanmu. aku mencintaimu, sebagai manusia.

aku sadar betapa bayak hal yang berbeda dari kita. namun kamu selalu menunjukkan ketidak samaan itu bukan alasan untuk tidak mencintaiku dengan sempurna. kamu selalu berkata "kekuranganmu adalah kelebihan untukku". kamu selalu menunjukkan semua usaha maksimal yang kau bisa untuk membuatku bahagia. kamu selalu berkorban untukku. kamu, membuatku malu sebagai manusia tidak sempurna, yang dengan begitu tanpa celanya kamu cintai sepenuh hati.

aku selalu tahu siklusku secara garis besar setiap aku menjalin hubungan. awalnya aku jatuh cinta pada orang yang membuatku nyaman dan bisa membuatku tertawa, kemudian kami jatuh cinta dan dunia milik kami berdua, lama-kelamaan pikiranku berbuah menjadi skenario drama bawang yang memuakkan bagi pasanganku, kemudian mereka lelah, kemudian mereka ucapkan "dadah...". dan aku akhirnya memainkan drama-ku sendiri. terpuruk dan merasa duniaku tak lagi bisa maju. aku stuck. hingga akhirnya siklus itu berulang lagi setiap menemukan orang yang sperti itu lagi, lalu diulangi lagi, lalu sendiri lagi. hingga rasanya aku muak dengan drama, aku memutuskan untuk mencintai dengan sederhana, ala kadarnya, namun nyata, tidak ada lagi drama.

hingga akhirnya jatuh cinta yang sederhana tanpa bunga-bunga kata klise kamu hadirkan untukku. kamu yang pemalu, yang pada awalnya bukan menjadi tujuanku. kamu menunjukkan kepadaku bahwa cinta itu memang ada, tidak harus dicipta karena memang ada yang Maha Pencipta, tidak usah direka karena cinta bukan permainan menerka-nerka. ketimbang kata, kamu lebih suka untuk menunjukkannya. ketimbang mengeja cinta, kamu lebih pandai membuatku betah menjadi manja dan lupa kalau aku sudah dewasa.

bersama kamu aku tidak perlu merasa canggung atau jaim. aku tidak perlu menjadi siapa-siapa agar kau cintai, aku tak perlu menjadi lebih-apa agar kau kagumi. bahkan pada saat-saat dimana diriku berubah menjadi monster paling menjengkelkan-pun, kamu masih bisa bilang "aku sayang padamu". lagi-lagi kamu, membuatku malu sebagai manusia tidak sempurna, yang dengan begitu tanpa celanya kamu cintai sepenuh hati.

dulu, aku biasa berjuang agar diperhatikan. aku berjuang untuk sampai ke ratusan kilo meter hanya untuk ditukar waktu dan seyum. dulu, aku biasa mengalah dan selalu merasa aku yang salah saking tidak mau kehilangannya. tapi sepertinya Tuhan memutar keadaanku dan memberikannya kepadamu, menjadi segumpal perasaan berjuang tanpa akhir, tertatih, dan drama dalam mencintaiku. dulu, waktu aku seusiamu, aku juga penuh drama... hingga orang yang kucintai muak dan pegi. namun bagiku, pergi darimu tidak pernah ada di dalam list-ku dalam menjalani hubungan denganmu. karena sejak pertama kali bertemu aku tahu ada ketulusan dan kemurnian dari caramu mencintaiku yang aku yakin tidak ada lagi yang bisa melakukan hal itu kepadaku selain kamu. aku hanya ingin bersamamu hingga tua nanti.

dan yang tidak mungkin aku lewatkan adalah tawaran darimu untuk mencintaiku tidak hanya hari ini, tidak hanya setiap hari, namun kamu berani berencana untuk mencintaiku selamanya. bahkan kita sudah berencana untuk memiliki satu-sama-lain dalam ikatan yang lebih serius beberapa taun lagi. aku mencintaimu karena aku sadar, kita adalah manusia-manusia yang tidak sempurna... namun tidak takut untuk berencana dan terus berusaha agar cinta ini terus terjaga. karena cinta yang seharusnya sempurna adalah hanya kepada-Nya dan semoga ikatan itu nanti adalah bentuk ibadah kita untuk menuju Ridha-Nya.

semangat terus, Ace...
jangan lelah cinta sama aku ya,
jangan pernah menyerah..
aku juga akan melakukan hal serupa
semoga kita dimudahkan dalam perjalanan
mencari Ridha-Nya... aamiin :)