Pages

Sunday, December 17, 2017

hi monster, tonight i lose a battle against you.

ada sebuah telepon yang kamu janjikan untuk berdering sejenak sebelum tidur, sesudah kamu menghabiskan makananmu. satu jam berlalu dan kamu belum juga selesai makan, tidak membalas pesanku atau meninggalkan pesan untuk jadi atau tidak kamu menelepon. tiga puluh menit aku habiskan melihat menit-menit berganti di telepon genggamku. dan kamu masih tidak ada.

memang bukan hal yang baru bahwa kamu jarang memegang telepon genggammu, tidak sepertiku. memang bukan hal yang baru bahwa kamu memiliki banyak teman yang bisa kapan saja mampir ke rumahmu. dan juga bukan hal yang baru kalau aku tidak suka dibuat menunggu tanpa kabar.

aku menunggu dengan resah karena ada satu hal yang kamu katakan dengan nada yang riang "aku mau nelepon kmau". membuat aku pun tidak sabar untuk menerima teleponmu, bukannya menunggu tanpa kabar. menit terasa lama sekali berputar. dan pukul 12.30 malam kamu baru mengabari bahwa tadi sesudah makan, temanmu mampir untuk menanyakan hasil rapatmu tadi bersama kawan lainnya.

aku merasa aku jadi bukan prioritasnya untuk menepati janji. monster itu keluar dari punggungku berdiam di pundakku dan mulai menggerogoti kepalaku. aku awalnya sudah tidak ingin membalas pesanmu, pura-pura sudah tidur rasanya akan lebih baik daripada berdebat.

tapi, monster itu akhirnya terbangun dan meladeni kamu yang meminta maaf. monster itu memarahimu dengan cara yang paling menjengkelkan. kamu yang masih minta maaf dar monster keras kepala yang tidak ada ramah-ramahnya sama sekali, hiingga menyudahi percaakapan di ruang obrolan adalah keputusan akhir. dengan "i love you" yang ragu-ragu aku dan kamu sampaikan. 

sekarang, monster itu duduk disampingku. ia merasa menang telah menghancurkan malam yang sekarusnya manis dengan berbagi cerita hingga terlelap, menjadi aku disini yang tidak henti-hentinya menangis. aku merasa sangat butuk untuknya, aku mengutuk diriku karena telah menjadi sangat menyebalkan sampai dia ragu untuk bilang dia cinta padaku. padahal beberapa hari sebelumnya dia yang bilang bahwa lelakinya harus lebih mengerti menangani perempuan dengan segala kekurangannya. aku rasa dia akan berubah pikiran kalau hal ini terus berulang. aku jadi takut untuk menunjukkan bahwa aku ingin bersamanya selalu, walaupun sebenarnya kau benar-benar ingin. aku benar-benar kesepian. tolong.............

beberapa hari ini pikiranku memang sedenga kacau, aku tidak bisa membiarkan diriku diam dirumah karena itu akan membuat pikiranku melayang kemana-mana dan monster itu yang akan jadi satu-satunya teman bicara---yang buruk. aku pergi keluar dan pulang malam, fisikku ynang sedang lemah ini terserang lagi penyakit-penyakit murahan seperti batuk dan masuk angin. dan malamnya, aku selalu berharap ada suaramu dari sebrang telepon menyuruhku minum air putih dan obat. betapa menyedihkan diriku, sengaja tetap sakit agar diperhatikan.

aku sungguh ingin bercerita tentang monster ini kepada orang yang tidak menanggapnya sebagai lelucon belaka, monster ini ada. mau bagaimanapun aku tidak akan bisa menceritakan monster ini kepadamu. kamu akan pergi, aku jamin. dan selama kita masih entah akan menikah atau tidak. monter ini akan jadi alasan terbesar untuk kamu berpikir ulang meikah dengaku atau tidak. dan oh perempuan manis itu yang baru saja kau beri badana mengupdate story-nya menggunakan bandana darimu dengan foto yang persis pose yang selalu kamu kirim padaku--mata dan jidat. ditambah bandana pemberianmu. tepat di malam kamu ragu untuk bilang "i love you". tidakkah kamu berpikir ulang, lebih mudah mana mencintai aku atau perempuan yang memendam rasa untukmu lebih lama dariku. 

sayang, aku tidak baik-baik saja. dan aku pikir aku sudah cukup memberatkanmu. aku tidak akan lagi bercerita tentang monter ini atau sekali lagi membiarkan monter ini menhadap wajahmu dan mengatakan hal-hal buruk yang akan membuatmu pergi. tapi aku tidak tahu akan bertahan sampai kapan aku mengurung monster itu dan tidak melakukan hal bodoh seperti menyakiti diriku sendiri dan bunuh diri berkali-kali di dalam pikiranku sendiri.

ini masalah serius sayang... 
aku sangat ketakutan, jika kamu sampai pergi gara-gara hal ini. semoga kamu selalu dikuatkan. karena sebenarnya tidak ada satu hal pun yang salah yang kamu lakukan, hanya aku saja yang berlebihan...

i will keep blaming my self. sorry...



Wednesday, December 13, 2017

1508KM

Padang, 1 Desember 2017

selamat seperempat abad, sayang. entitas dengan jalan pikiran paling sederhana yang pernah aku temui. jauh paling dekat yang pernah hadir di hidupku. aku tau berapapun paragraf yang ku tulis tentang bagaimana bersyukurnya aku memiliki kamu; yang berbanding terbalik denganku, kamu tidak akan menanggapnya tidak lebih dari gombalan belaka. padahal bukan. aku yang sangat ketergantungan terhadap gadget dan kamu yang selalu menaruhnya di saku. kamu yang memiliki 1/2 dari berat tubuhku dan aku yang 2x berat tubuhmu; engkau si tulang dan aku si lemak.

tidak sulit mengingat bagaimana setapak kita bisa saling bersinggungan, bagaimana percakapan itu dimulai, sungguh-sungguh sederhana seperti memang sudah seharusnya kita saling menyambut pintu yang terbuka bagi masing-masing. kita tidak pernah memulainya sebagai sesuatu yang rumit, karena sungguh, demi Tuhan, aku tidak mau membuat kita menjadi begitu. tidak ada puisi; yang katanya bahasa paling jujur setelah tatapan mata, bahkan kamu awalnya hanya menatap masing-masing satu arah lewat display picture line. tidak ada pertanyaan "maukah?", tidak ada tanggal, tidak ada sentuhan, tidak ada kencan. hanya udara; dan gelombang elektromagnetik berupa balon-balon kata dan ratusan jam percakapa telepon membahas kerning, desainer, dan musik emo favorit kita, yang selanjutnya menjadi percakapan soal betapa kita sering kali dikecewakan di masa lalu. 

hal itu yang membuat kita takut untuk saling mengikat:

karena kita tahu pedihnya sebuah perpisahan yang akan datang setelahnya.

makah beginilah jika dua orang yang masih sama-sama takut untuk kembali kecewa. namun semakin seringnya kita berbagi cerita dan tawa, aku, ya aku, aku mengucapkan perasaanku yang mulai tumbuh untukmu, namun bukan untuk dijawab atau dibalas. hanya agar kamu tahu bahwa aku nyaman bersamamu, dan kumohon agar kau tidak pergi. kita tidak perlu status apa-apa, tidak perlu janji apa-apa, tidak perlu visi apa-apa, aku hanya ingin kau tinggal untuk menemaniku dan aku akan melakukan hal yang sama untukmu. sebisa mungkin aku akan berusaha untuk jadi berguna untukmu. aku tidak ingin jadi seonggok manusia yang memberatkanmu---kamu, yang sedang sibuk menyelesaikan jenjang pendidikan terakhirmu. itu adalah ikrarku pada diriku sendiri, bukan untukmu, namun juga untukku, agar aku tidak kamu tinggal pergi karena aku menggenggam rutinitasmu, kebebasanmu, juga hal-hal yang masih ingin kamu capai terlalu erat.

tapi, inilah aku, dengan segala kerumitan dan medan tempur di dalam otakku sendiri. sering kali aku bertanya-tanya mengapa aku bisa jadi serumit ini. semakin bertambah usia, lingkaran pertemananku semakin sempit. dan setelah keberangkatan sahabatku mengadu nasib di agensi jakarta dan yang satunya lagi sibuk tugas akhir, aku semakin bingung dengan siapa akan kuhabiskan waktu selagi menunggu kamu yang juga sedang sibuk tugas akhir. sering kali aku hanya bisa menatap langit-langit kamarku, tidak melakukan apapun, memegang handphone menunggu ada notifikasi pesan yang kuharap itu darimu. se-gabut-itu-loh-aku. oh bukan, se-kesepian-itu-loh-aku. aku menjadi anak tunggal seumur hidupku, tidak ada teman; bercanda, berantem, bermain, semenjak aku kecil di dalam rumahku. karna jarak rumah dan sekolahku jauh, jarang sekali ada teman yang bermain ke rumah, menginap, bahkan yang teman yang benar-benar bisa menganggap rumahku sebagai rumah keduanya. begitu pula saat aku berkuliah, lingkaran pertemananku semakin sempit, dan jika dibanding ada teman yang main ke rumah, aku lah yang menghabiskan lebih banyak waktu di kampus utnuk membohongi kesepianku di rumah, sebagai pemegang predikat tunggal sebagai anak. 

pernahkah kamu membayangkannya? satu-satunya teman di bangunan bernama rumah, yang dipersempet menjadi kamar, adalah dirimu sendiri; yang sering kali melawan dirimu. dirimu sendiri; yang memunculkan benak tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk dari semua hal, dirimu; yang mencemaskan hampir setiap langkah yang dibuat? aku harap jangan, karena kembali lagi, kamu adalah entitas dengan jalan pikiran paling sederhana yang ku kenal. itu adalah sebuah berkah, kamu patut mensyukurinya. maaf jika aku terkesan berlebihan dan aku harap kamupun tidak akan pernah membaca tulisan ini. hanya akan menambah pikiranmu karena mungkin kamu tidak akan mau membangun masa depan dengan orang serumit ini. yang bahkan disaat ia menulis tulisan ini, sebagian dari dirinya menyuruh untuk berhenti menulis, dan hapus.

aku jadi tidak merasa baik untukmu, untuk siapapun. selama aku takut aku akan membebani mu, siapapun. aku pernah merasakan menjadi care-taker bagi seseorang dengan emosi yang labil. yang aku selalu lakukan adalah mengelus dada dan berharap ia akan segera sembuh. hingga dia meledak menjadi sebuah percikan menjengkelkan, dan aku si care-taker couldn't take it anymore. aku tidak ingin hal itu terjadi padaku, padamu. aku tidak ingin kamu pergi. walau kehadiranmu selalu dalam sebentuk percakapan di udara kamu telah dapat merekatkan kembali serpihan bernama hati yang nyaris aku abaikan keberadaannya. aku tidak ingin kamu pergi...

aku hanya tidak ingin kamu pergi. sehingga aku selalu berusaha kuat melawan diriku yang berkata bahwa aku akan merepotkanmu dan kamu akan pergi tidak lama lagi.






tanpa kamu menolongku untuk melakukannya. karena aku hanya bisa memendamnya sendiri.




















agar kamu tidak pergi.











Ilalang,
13 Desember 2017
Bandung, 01:31