Dia adalah burung elang. Perempuan
bermata tajam. Aku jarang bertemu dengannya walau ada di satu lingkungan yang
sama. Kami tak pernah bertegur sapa, namun setiap kali aku memiliki waktu untuk
bertemu dengannya, hadirnya bagai sayap elang yang terbentang megah. Segan aku
mendekatinya.
Tak banyak yang bisa aku
deskripsikan mengenai dirinya. Hanya seorang gadis tomboy dengan rambut sebahu
dan agak urakan. Sering berkumpul di depan bengkel desain produk ataupun warung
di belakang kampus dengan banyak laki-laki. Sepertinya ada seseorang yang dia
sukai disana, aku bisa melihat dari senyum malu-malunya walau ditutupi oleh
gengsi dari kedua alisnya yang meruncing.
Hari ini aku berpapasan dengannya,
ia menunduk dengan menatap tajam ke aspal sepeti aspal itu adalah musuhnya. Ya,
tentu saja, elang seharusnya terbang. Mengapa kau tak mengepakkan sayapmu,
nona?
Perempuan itu
bernama Aya dan lelaki itu bernama Satria. Mereka duduk di depan bengkel desain
produk bersama beberapa teman lainnya. Penampilan mereka semua hampir sama,
rambut yang tak disisir rapih, diikat sembarangan, maupun ditutupi oleh topi. Kaos
hitam maupun berwarna belel. Mereka bukan gelandangan, hanya sekumpulan
mahasiswa dan mahasiswi desain tahun ketiga, tahun dimana mengurus diri bukan
hal yang utama melainkan menyelesaikan mata kuliah sesegera mungkin.
Aya tidak
pernah memiliki pandangan yang sama terhadap Satria, Aya selalu menyembunyikan
tatapnya tiap kali bertabrak pandang dengan Satria, namun keduanya sama-sama
gengsi. Mereka menutupi sesuatu dari diri dunia, bahkan dari dirinya
masing-masing.
Aya menikmati masa-masa menghabiskan waktu di depan bengkel desain produk dengan teman-teman lintas jurusannya itu. Sayap elang milik Aya mengembang.
Pada hari-hari setelahnya, aku
masih sering melihat Aya. Aya masih jadi seorang gadis ceria, namun tak dapat
menyembunyikan pandangannya yang selalu tampak siaga. Entah apa yang membuat
aya merasa terancam sehingga harus waspada seperti itu. Dia berjalan diantara
kawanan srigala. Teman-temannya dari jurusan desain produk, lelaki-lelaki
gondrong itu. Aya, seekor elang diantara serigala. Ah, Ayaku... Eh, tunggu dia
hanya Aya, Aya yang bukan milikku. Tidak akan pernah jadi milikku.
Aya pulang ke
rumahnya, rumah peninggalan neneknya yang kini hanya dihuni oleh ia dan ibunya.
Ia merebahkan badannya di kasur membiarkan cahaya mentari sore singgah di
kamarnya. Namun ia enggan menatapnya. Ia memeluk lutut.
Elang yang ada dalam sangkar.
Elang yang ada dalam sangkar.
Sebuah pagi hadir diantara kedua mata elang yang masih terpejam itu. Bayang sekilas tentang tangan yang berusaha meraih dan punggung yang menjauh. Kotak yang ditutup dan kapal kertas yang diterbangkan dari atap gedung namun terjatuh. Mata elang itu terbuka membealak sejenak sebelu akhirnya pada ukuran aslinya yang menajam. Aya duduk di tepian kasurnya, berusaha mendapatkan kesadarannya penuhnya dengan telapak tangannya menutup muka.
Ruang makan yang sepi dan meja makan dengan tudung saji ditengah-tengahnya. Aya membuka tudung saji tersebut, selembar kertas dua puluh ribu dengan sebuah notes kecil ‘makan siang’ terdapat disana. Cukup lama sebelum Aya menghela nafas lalu kemudian mengambil uang tersebut dan memasukannya ke dompet.
Aya
meninggalkan rumah.
Di sebuah cafe
Aya duduk dengan secangkir creme brulee miliknya sambil melihat-lihat hasil
cetakan fotonya. Seorang pria melewati bangkunya dan duduk di bangku belakang
Aya.
bersambung...
---
hai, since i didn't have a love life story to tell, saya akan mulai menulis cerpen bersambung di blog ini. entahlah, sudah sejak lama saya ingin menulis, tetapi selalu terhalang dengan tata cara penulisan, mood, dan ketakutan akan komentar orang soal cerpen saya. namun sekarang saya akan memberanikian diri menulis, karena menulis itu tidak dilarang. dan oh ya, ini cerita fiksi ya, jika ada kesamaan tokoh, nama, jalan cerita, itu bukan kebetulan hahaha. every single words that spoken was inspired me to write this down into short-story, but sure, with a twist of my imagination of course. so i will keep on writing! see you next week. oiya saya belum menentukan judul untuk cerpennya, nanti saja lah ya kalau sudah beres ceritanya hehe.
ps : bukit, you're always be my inspiration. semoga petapaanmu membuahkan hasil. semoga dengan kita berpisah kamu tak perlu lagi pusing menangani aku yang selalu rewel minta ditemani. pintu rumahku tak pernah dikunci untukmu, pulanglah kapanpun kamu mau. love you!
sincerely, ilalang
3 oktober 2016
bandung, yang katanya lagi dingin-dinginnya.