Pages

Sunday, December 17, 2017

hi monster, tonight i lose a battle against you.

ada sebuah telepon yang kamu janjikan untuk berdering sejenak sebelum tidur, sesudah kamu menghabiskan makananmu. satu jam berlalu dan kamu belum juga selesai makan, tidak membalas pesanku atau meninggalkan pesan untuk jadi atau tidak kamu menelepon. tiga puluh menit aku habiskan melihat menit-menit berganti di telepon genggamku. dan kamu masih tidak ada.

memang bukan hal yang baru bahwa kamu jarang memegang telepon genggammu, tidak sepertiku. memang bukan hal yang baru bahwa kamu memiliki banyak teman yang bisa kapan saja mampir ke rumahmu. dan juga bukan hal yang baru kalau aku tidak suka dibuat menunggu tanpa kabar.

aku menunggu dengan resah karena ada satu hal yang kamu katakan dengan nada yang riang "aku mau nelepon kmau". membuat aku pun tidak sabar untuk menerima teleponmu, bukannya menunggu tanpa kabar. menit terasa lama sekali berputar. dan pukul 12.30 malam kamu baru mengabari bahwa tadi sesudah makan, temanmu mampir untuk menanyakan hasil rapatmu tadi bersama kawan lainnya.

aku merasa aku jadi bukan prioritasnya untuk menepati janji. monster itu keluar dari punggungku berdiam di pundakku dan mulai menggerogoti kepalaku. aku awalnya sudah tidak ingin membalas pesanmu, pura-pura sudah tidur rasanya akan lebih baik daripada berdebat.

tapi, monster itu akhirnya terbangun dan meladeni kamu yang meminta maaf. monster itu memarahimu dengan cara yang paling menjengkelkan. kamu yang masih minta maaf dar monster keras kepala yang tidak ada ramah-ramahnya sama sekali, hiingga menyudahi percaakapan di ruang obrolan adalah keputusan akhir. dengan "i love you" yang ragu-ragu aku dan kamu sampaikan. 

sekarang, monster itu duduk disampingku. ia merasa menang telah menghancurkan malam yang sekarusnya manis dengan berbagi cerita hingga terlelap, menjadi aku disini yang tidak henti-hentinya menangis. aku merasa sangat butuk untuknya, aku mengutuk diriku karena telah menjadi sangat menyebalkan sampai dia ragu untuk bilang dia cinta padaku. padahal beberapa hari sebelumnya dia yang bilang bahwa lelakinya harus lebih mengerti menangani perempuan dengan segala kekurangannya. aku rasa dia akan berubah pikiran kalau hal ini terus berulang. aku jadi takut untuk menunjukkan bahwa aku ingin bersamanya selalu, walaupun sebenarnya kau benar-benar ingin. aku benar-benar kesepian. tolong.............

beberapa hari ini pikiranku memang sedenga kacau, aku tidak bisa membiarkan diriku diam dirumah karena itu akan membuat pikiranku melayang kemana-mana dan monster itu yang akan jadi satu-satunya teman bicara---yang buruk. aku pergi keluar dan pulang malam, fisikku ynang sedang lemah ini terserang lagi penyakit-penyakit murahan seperti batuk dan masuk angin. dan malamnya, aku selalu berharap ada suaramu dari sebrang telepon menyuruhku minum air putih dan obat. betapa menyedihkan diriku, sengaja tetap sakit agar diperhatikan.

aku sungguh ingin bercerita tentang monster ini kepada orang yang tidak menanggapnya sebagai lelucon belaka, monster ini ada. mau bagaimanapun aku tidak akan bisa menceritakan monster ini kepadamu. kamu akan pergi, aku jamin. dan selama kita masih entah akan menikah atau tidak. monter ini akan jadi alasan terbesar untuk kamu berpikir ulang meikah dengaku atau tidak. dan oh perempuan manis itu yang baru saja kau beri badana mengupdate story-nya menggunakan bandana darimu dengan foto yang persis pose yang selalu kamu kirim padaku--mata dan jidat. ditambah bandana pemberianmu. tepat di malam kamu ragu untuk bilang "i love you". tidakkah kamu berpikir ulang, lebih mudah mana mencintai aku atau perempuan yang memendam rasa untukmu lebih lama dariku. 

sayang, aku tidak baik-baik saja. dan aku pikir aku sudah cukup memberatkanmu. aku tidak akan lagi bercerita tentang monter ini atau sekali lagi membiarkan monter ini menhadap wajahmu dan mengatakan hal-hal buruk yang akan membuatmu pergi. tapi aku tidak tahu akan bertahan sampai kapan aku mengurung monster itu dan tidak melakukan hal bodoh seperti menyakiti diriku sendiri dan bunuh diri berkali-kali di dalam pikiranku sendiri.

ini masalah serius sayang... 
aku sangat ketakutan, jika kamu sampai pergi gara-gara hal ini. semoga kamu selalu dikuatkan. karena sebenarnya tidak ada satu hal pun yang salah yang kamu lakukan, hanya aku saja yang berlebihan...

i will keep blaming my self. sorry...



Wednesday, December 13, 2017

1508KM

Padang, 1 Desember 2017

selamat seperempat abad, sayang. entitas dengan jalan pikiran paling sederhana yang pernah aku temui. jauh paling dekat yang pernah hadir di hidupku. aku tau berapapun paragraf yang ku tulis tentang bagaimana bersyukurnya aku memiliki kamu; yang berbanding terbalik denganku, kamu tidak akan menanggapnya tidak lebih dari gombalan belaka. padahal bukan. aku yang sangat ketergantungan terhadap gadget dan kamu yang selalu menaruhnya di saku. kamu yang memiliki 1/2 dari berat tubuhku dan aku yang 2x berat tubuhmu; engkau si tulang dan aku si lemak.

tidak sulit mengingat bagaimana setapak kita bisa saling bersinggungan, bagaimana percakapan itu dimulai, sungguh-sungguh sederhana seperti memang sudah seharusnya kita saling menyambut pintu yang terbuka bagi masing-masing. kita tidak pernah memulainya sebagai sesuatu yang rumit, karena sungguh, demi Tuhan, aku tidak mau membuat kita menjadi begitu. tidak ada puisi; yang katanya bahasa paling jujur setelah tatapan mata, bahkan kamu awalnya hanya menatap masing-masing satu arah lewat display picture line. tidak ada pertanyaan "maukah?", tidak ada tanggal, tidak ada sentuhan, tidak ada kencan. hanya udara; dan gelombang elektromagnetik berupa balon-balon kata dan ratusan jam percakapa telepon membahas kerning, desainer, dan musik emo favorit kita, yang selanjutnya menjadi percakapan soal betapa kita sering kali dikecewakan di masa lalu. 

hal itu yang membuat kita takut untuk saling mengikat:

karena kita tahu pedihnya sebuah perpisahan yang akan datang setelahnya.

makah beginilah jika dua orang yang masih sama-sama takut untuk kembali kecewa. namun semakin seringnya kita berbagi cerita dan tawa, aku, ya aku, aku mengucapkan perasaanku yang mulai tumbuh untukmu, namun bukan untuk dijawab atau dibalas. hanya agar kamu tahu bahwa aku nyaman bersamamu, dan kumohon agar kau tidak pergi. kita tidak perlu status apa-apa, tidak perlu janji apa-apa, tidak perlu visi apa-apa, aku hanya ingin kau tinggal untuk menemaniku dan aku akan melakukan hal yang sama untukmu. sebisa mungkin aku akan berusaha untuk jadi berguna untukmu. aku tidak ingin jadi seonggok manusia yang memberatkanmu---kamu, yang sedang sibuk menyelesaikan jenjang pendidikan terakhirmu. itu adalah ikrarku pada diriku sendiri, bukan untukmu, namun juga untukku, agar aku tidak kamu tinggal pergi karena aku menggenggam rutinitasmu, kebebasanmu, juga hal-hal yang masih ingin kamu capai terlalu erat.

tapi, inilah aku, dengan segala kerumitan dan medan tempur di dalam otakku sendiri. sering kali aku bertanya-tanya mengapa aku bisa jadi serumit ini. semakin bertambah usia, lingkaran pertemananku semakin sempit. dan setelah keberangkatan sahabatku mengadu nasib di agensi jakarta dan yang satunya lagi sibuk tugas akhir, aku semakin bingung dengan siapa akan kuhabiskan waktu selagi menunggu kamu yang juga sedang sibuk tugas akhir. sering kali aku hanya bisa menatap langit-langit kamarku, tidak melakukan apapun, memegang handphone menunggu ada notifikasi pesan yang kuharap itu darimu. se-gabut-itu-loh-aku. oh bukan, se-kesepian-itu-loh-aku. aku menjadi anak tunggal seumur hidupku, tidak ada teman; bercanda, berantem, bermain, semenjak aku kecil di dalam rumahku. karna jarak rumah dan sekolahku jauh, jarang sekali ada teman yang bermain ke rumah, menginap, bahkan yang teman yang benar-benar bisa menganggap rumahku sebagai rumah keduanya. begitu pula saat aku berkuliah, lingkaran pertemananku semakin sempit, dan jika dibanding ada teman yang main ke rumah, aku lah yang menghabiskan lebih banyak waktu di kampus utnuk membohongi kesepianku di rumah, sebagai pemegang predikat tunggal sebagai anak. 

pernahkah kamu membayangkannya? satu-satunya teman di bangunan bernama rumah, yang dipersempet menjadi kamar, adalah dirimu sendiri; yang sering kali melawan dirimu. dirimu sendiri; yang memunculkan benak tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk dari semua hal, dirimu; yang mencemaskan hampir setiap langkah yang dibuat? aku harap jangan, karena kembali lagi, kamu adalah entitas dengan jalan pikiran paling sederhana yang ku kenal. itu adalah sebuah berkah, kamu patut mensyukurinya. maaf jika aku terkesan berlebihan dan aku harap kamupun tidak akan pernah membaca tulisan ini. hanya akan menambah pikiranmu karena mungkin kamu tidak akan mau membangun masa depan dengan orang serumit ini. yang bahkan disaat ia menulis tulisan ini, sebagian dari dirinya menyuruh untuk berhenti menulis, dan hapus.

aku jadi tidak merasa baik untukmu, untuk siapapun. selama aku takut aku akan membebani mu, siapapun. aku pernah merasakan menjadi care-taker bagi seseorang dengan emosi yang labil. yang aku selalu lakukan adalah mengelus dada dan berharap ia akan segera sembuh. hingga dia meledak menjadi sebuah percikan menjengkelkan, dan aku si care-taker couldn't take it anymore. aku tidak ingin hal itu terjadi padaku, padamu. aku tidak ingin kamu pergi. walau kehadiranmu selalu dalam sebentuk percakapan di udara kamu telah dapat merekatkan kembali serpihan bernama hati yang nyaris aku abaikan keberadaannya. aku tidak ingin kamu pergi...

aku hanya tidak ingin kamu pergi. sehingga aku selalu berusaha kuat melawan diriku yang berkata bahwa aku akan merepotkanmu dan kamu akan pergi tidak lama lagi.






tanpa kamu menolongku untuk melakukannya. karena aku hanya bisa memendamnya sendiri.




















agar kamu tidak pergi.











Ilalang,
13 Desember 2017
Bandung, 01:31 

Saturday, November 18, 2017

aku tidak akan mengatakan bahwa diriku memiliki mental health issue. percayalah, itu bukan suatu hal yang bisa dibanggakan. aku selalu menganggap diriku hanya sekedar terlalu banyak cemas dan berlebihan terhadap banyak hal.

salah satu alasan yang kutahu, adalah aku sangat butuh perhatian, bukan dari banyak orang, hanya cukup seseorang. namun kadang perhatian yang aku harap aku dapatkan, sepertinya agak banyak merepotkan orang yang aku sayangi. misalnya harus menabari dulu jika akan mengerjakan sesuatu. karena, andai mereka tahu, betapa aku selalu memegang handphone, terutama di malam hari. ketika aku bisa merasa dapat "melonggarkan kerah" dan beristirahat pada waktu yang berkualitasbersama orang tersayang.

namun, ternyata orang tersayang merasa... hal yang kuminta itu, sangat berlebihan. hal yang dapat membuatku tenang itu, agak merepotkan. aku jadi berfkir, apa hal yang membuat aku tenang itu, obat yang kubutuhkan itu, sangat mahal harganya? sehingga orang yang aku sayangi merasa terbebani untuk menyediakan obat itu?

aki kembali menarik diri. aku tak ingin merepotkannya, biar aku saja lagi yang membohongi diriku bahwa aku baik-baik saja walaupun secara fisikpun terasa. bagian dada kiri dan tanganku terkadang merasa kesemutan setiap kali pikiranku mulai kacau. akupn menulis postingan ini sambil tak hentinya ait mataku mengalir. ada apa dengan diriku?

jujur saja, ketika dia datang dan sudah kubilang padanya, "kalau tidak sungguh2 ingin membenarkan hatiku yang berserakan, lebih baik pergi saja dari sekarang". hal tersebut bukan tanpa alasan. aku sulit mengatasi kalau sampai hal itu terjadi lagi.bukan karena takut diselingkuhi atau dia menyukai wanita dengan karakteristik tertentu. aku hanya paling takut jika dia pergi. pergi ketika dia sudah tau bahwa aku se-merepotkan-ini, dan aku tidak tahu lagi orang seperti apa atau sesabar apa yang kira-kira nanti akan jadi teman hidupku selamanya. aku merasa skeptis dengan keadaanku yang seperti ini.

ini hari pertama setelah aku berjanji akan membiarkannya mengerjakan tugasnya tanpa aku ganggu. pada selama entah apa saja yang dia kerjakan hari ini, aku tersiksa, karena aku tahu apa yang aku punya, namun seperti tak aku miliki. aku ada ketika dia memerlukan aku, namun, aku harus menahan driku untuk tidak mengganggunya ketika aku benar-benar membutuhkannya. aku tidak ingin mengganggunya. tapi aku benar-benar butuh teman bicara. aku kesepian.

aku pun baru menulis lagi padamu, langit. saking aku tidak tahu,mau bicarasama siapa tentang apa yang aku rasakan. aku harap obat itu akan segera datang... i'm dying...

Friday, August 4, 2017

menikah

tulisan ini dibuat berdasarkan pemahaman dan tujuan saya sendiri sebagai manusia. bukan untuk berdebat apalagi memenangkan trofi untuk jadi yang paling benar. 

belakangan ini saya banyak membaca artikel tentang betapa mahalnya biaya pernikahan, betapa besarnya "gengsi" yang harus dibayar untuk sehari pesta pernikahan, dan betapa besarnya biaya hidup yang harus ditanggung kepala keluarga yang terhitung masih berusia muda. banyak sekali teman-teman saya yang mengeshare tentang hal itu, kadang juga sampai pada mengolok-olok orang-orang yang bercita-cita menikah muda. alasan yang mereka lontarkan sederhana "emangnya nikah soal ena ena-an aja, biayanya mahal tau", daripada berbicara soal menikah adalah ibadah, mereka malah lebih khawatir akan kesejahteraannya hidup terlepas dari orang tua dan mempunyai tanggung jawab langsung kepada Tuhan.

Pun teman saya, sebut saja A (25tahun) yang sudah menikah, dia memiliki padangan bahwa menikah muda dan memiliki anak adalah hal yang sebenarnya sangat riskan. baik dari sisi finansial maupun psikologis. hal itu berdampak pada pandangan dia terhadap akun-akun musllim yang menganjurkan untuk menikah, dan bukan pacaran. A melalui masa pacaran terlebih dahulu, mungkin sudah 2 atau 3 tahun, dari hal-hal yang pasangain ini sebar di media sosial terlihat seperti selalu saja ada masalah yang membuat saya tidak yakin apakah pasangan ini dapat saling mendewasakan. pasangan ini memiliki status finansial yang lebih dari cukup karena gaji sang suami diatas rata-rata, namun cuitannya selalu bernada mayor bahwa "menikah itu mahal".

Mari kita ambil contoh teman saya yang lain, sebut saja B (21 tahun) yang sudah menikah dan langsung memiliki anak. B adalah perempuan muslimah yang sangat taat dalam agama, besar di keluarga yang agamis, dan selalu mempraktikkan ilmu-ilmu agama pada kehidupannya sehari-hari. dia satu fakultas dengan saya, sehingga saya bisa menilai bahwa dia bukan seorang yang radikal walaupun dari segi penampilan dia sangat syar'i. dia juga cerewet seperti perempuan lain, tapi dia lebih cerdas memilih hal yang dia bagikan. dia membagikan konten yang bisa jadi pelajaran berdasarkan pengalamannya menikah, baiknya, buruknya (yang jarang terjadi), dan bukan menggiring opini publik secara radikal. Saya lihat updateannya selalu, ya selayaknya pasangan hangat seperti baru pacaran namun telah diberi pemanis lagi berupa baby yang sehat dan ganteng. tidak rewel. adem sekali lihat pasangan muda yang hangat ini.

Saya pribadi telah sampai pada pemahaman bahwa menikah adalah ibadah. ibadah sang suami menjadi imam yang baik bagi keluarga dan sang istri menjadi sebaik-baiknya pendamping yang mendukung suami di jalan kebaikan. segala yang berhubungan dengan pernikahan yang didasarkan oleh ibadah pada sang pencipta sejatinya akan diberi kelapangan dalam segala urusan. yang pertama adalah karena pasangan tersebut yakin akan rezeki yang akan selalu dicukupkan. yang kedua, dibanding berpacaran, menikah akan lebih membawa ketenangan bagi jiwa karena ada dalam hubungan yang juga diridhai. last but not least, tidak perlu bermegah-megah saat akad nikah karena uangnya dapat digunakan untuk menabung di kemudian hari. 


Saya tidak punya target sebenarnya untuk menikah usia berapa, tahun ini saya berusia 23, dan jika saya bilang saya mau menikah usia 25 itu berati 2 tahun lagi, dan calonnya pun belum ada. kenapa nggak taaruf aja? daftar di salman? saya lebih senang ketika orang yang jadi pasangan saya kelak adalah orang-orang yang ada di sekitar saya, karena mereka tidak perlu membuktikan apa-apa jika mau dengan saya, saya telah memahami mereka tanpa harus ada yang disembunyikan. sementara saya tidak pernah jadi pilihan orang-orang di sekitar saya, setidaknya semoga mereka tahu, kalau saya selalu berusaha memperbaiki diri dan kelak dapat menjadi isteri yang baik untuk mereka yang memilih saya. 

Jodoh telah tertulis, dan saya bukan Tuhan...
saya akan berhenti berharap kepada bukit
tapi saya tidak akan pernah berhenti berharap kepada Tuhan
bahwa Dia telah menyediakan jodoh yang pantas untuk saya
dan sayapun pantas untuknya..






Ilalang,
5 agustus 2017
10:28

Tuesday, July 11, 2017

turbulensi rasa

kapan aku bisa berhenti menulis tentang kamu? aku tahu aku akan sakit, sakit sesakit-sakitnya diriku jika aku tahu hatimu sudah berpindah. rumah kita tak lagi sama. mimpi kita tidak lagi satu kata. aku bukanlah orang yang kamu inginkan. aku sadar akan hal itu dan tolong tidak usah diperjelas dengan mengatakannya kepadaku.

kenapa? kenapa kamu masih disini? kenapa kamu masih meminta setitik hidupku untuk selalu hadir untukmu, padahal, kamu tidak bisa mengabulkan hal tersederhana yang aku paling butuhkan. bukankah ini tidak adil? sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku? apa kamu tidak mau kehilangan satu-satunya orang yang menyukai kamu apa adanya?

tapi, bukit, bukankah ini sama saja kamu menyakiti ku dengan sadar? karena kamu tau kamu tidak menginginkanku lagi tapi kamu masih memintaku ada ketika kamu tidak punya siapa-siapa yang dapat mengerti keadaanmu seutuhnya? lalu aku ini kau anggap sama saja seperti tissue, yang bisa menyeka air matamu lalu kau buang ketika kamu sudah kembali tersenyum?

bukit, tolong pikirkan dan pertimbangkan segala yang kamu lakukan kepadaku, yang telah kita lalui, yang juga kamu tinggalkan. tidak mudah bagiku untuk melupakannya. jika kamu masih hadir namun tidak memiliki rasa yang sama denganku lagi. untuk apa kamu tetap disini. aku tidak bisa hanya menjadi temanmu. itu menyakitkan. apalagi melihatmu dengan orang lain.

bukit, tidak kah kamu dapat memutuskan?
haruskah aku tetap ada di hidupmu atau tidak...
tanpa harus menyakitiku?

Monday, July 3, 2017

forever fall

terlalu sakit hati ini sehingga aku hanya dapat menyebut namamu dalam doa, bahkan sama pentingnya dengan mendoakan kedua orang tuaku. aku berdoa dalam perihnya pengharapan yang tak berbalas, semoga kamu selalu diberi kebahagiaan. dan jika dengan adanya aku, kamu tidak bahagia, aku meminta pada Tuhan agar menjauhkan aku sejauh-jauhnya darimu. namun tidak terbersit sedikitpun di benakmu untuk menjaga perasaanku. mengabulkan permintaan tersederhanaku.


aku tidak pernah bisa benar-benar tidak peduli padamu walau aku bilang aku tidak lagi peduli. aku harap kamu lebih menyadari tindakanku daripada ucapanku. tapi kamu begitu buta untuk melihat hal itu. waktu-waktu dan perasaan aku habiskan hanya agar setidaknya kamu yakin bahwa aku selalu ada untukmu... bahwa aku adalah orang yang peduli padamu bagaimapun kamu. dan jika kamu yakin ada yang lebih mengerti kamu di luar sana, segera lah menikahinya, agar perkara hatiku selesai...

kamu ingin foto kimong? aku beri. kamu masih terjaga di sepertiga malam dan menyapaku? aku balas. aku tidak minta yang macam2 kepadamu. tapi sepertinya itu permintaan yang sangat berat untuk kamu lakukan. lebih berat daripada sekedar "selalu ada untukmu.". 

kau ingin kehidupan yang normal? ya selamat kamu mendapatkannya sekarang. ternyata selama ini bukan kamu yang aneh, tapi aku yang aneh. sebenarnya di usiamu semua yang kamu lakukan adalah hal yang wajar, aku saja yang kesepian. ketika kamu milikku, kamu adalah teman, pacar, guru, adik, anak kecil, partner, dan segalanya untukku. maka saat kehilanganmu, aku kehilangan semuanya. tidak ada yang bisa menggantikan sebagaimana pas-nya kamu denganku. tapi lagi-lagi, ironis, aku bukanlah yang kamu inginkan.

aku bagai tertimbun di lubang harapan yang aku gali sendiri. realitanya, kamu tidak akan datang menolongku... sedalam apapun aku terjatuh...

untukmu.





Ilalang
3 Juli 2017
bandung |  23.00

Sunday, June 18, 2017

Banyak sekali yang ingin aka tulis, tapi aku hanya perlu kamu. Sehingga tak perlu lagi aku merasa ada yang perlu ku tulis, karena aku membagi semuanya denganmu. Banyak sekali yang aku ingin tangisi, tapi aku tahu kamu tidak ada di sini untuk menyeka air mataku atau mengusap kepalaku. Sehingga aku merasa tak perlu menangis, ku telan saja semuanya mentah-mentah. Banyak sekali yang ingin aku bagi,  sebanyak rasa sayang ini kepadamu, yang kini membatu, tak lagi hangat, tak lagi indah, karena aku tahu, bukan aku yang ada di hatimu. Dulu aku tidak percaya istilah go with the flow. but since i'm a dead fish, i believe, i'm already go with the flow. 

I'm dead since you told me that you don't want me anymore. 








Ilalang,
Bandung 19 Juni 2017
2:19 renungan kecil

Wednesday, May 31, 2017

grayscale

ada seseorang yang selalu dapat membuatku tersenyum tanpa bisa ku dapatkan keutuhannya. hanya sebatas punggung dengan kepala yang sesekali sedikit menoleh untuk membagikan sedikit tawa dan senyumnya. sudah bertahun-tahun aku selalu merasa berjalan di belakangnya, mengikuti kemana ia berjalan hanya agar aku dapat melihat punggungnya bergerak dan mendengarkan cerita-cerita dan ocehannya yang tidak pernah gagal membuat aku tertawa, yah... minimal tersenyum. walau menatap ke arahku berlama-lama tidak pernah menjadi pilihannya, terima kasih telah sedikit membuatku percaya bahwa kebayakan gula itu diabetes, dan takaran yang cukup akan membuat sisa hariku terasa manis. flow like we know ;)



untuk abu-abu yang tidak (akan) pernah aku miliki
aku senang telah bisa mengenalmu, sungguh :)
bandung, 00:27

Sunday, April 23, 2017

tolong aku.....

Aku berada di tengah gang yang kumuh, dingin,  gelap, dan sepi. Aku berusaha mencoba mencari jalan keluar, tapi tetap tidak kutemui cahaya. Yang kulalui dari hari-ke-hari hanyalah malam. Yang masih didalam gang ini, yang kian hari semakin dingin. Aku berjalan, berjalan, dan terus berjalan... sampai pada suatu simpangan gang, aku bertemu seseorang. Seorang lelaki yang kelihatannya sedikit lebih muda dariku. Auranya sangatlah pekat, dia seperti memendam kesedihan yang sangat mendalam. Aku coba mendekatinya, namun ia menangis, semakin aku mendekatinya, semakin kencang ia menangis sampai-sampai aku bisa merasakan luka yang ia rasakan di dalam hatinya. Walau pancaran kesedihannya merobekkan kulit dan hatiku, aku terus berusaha mendekatinya. Karena aku tahu rasanya ada di dalam ketersesatan ini. 

Sampai akhirnya aku dapat menyentuhnya. Aku memeluknya erat. “Aku mengerti lukamu” kubisikkan pada telinganya.

Mendadak malam lambat laun terasa menjadi dini hari dan kerik jangkrik perlahan-lahan berubah menjadi kokokan ayam. Dia berbalik memelukku sambil senggukan pertanda lukanya perlahan sirna. Pada hari-hari selanjutnya aku menyemangati dia untuk sama-sama mencari jalan keluar, mencari cahaya. Kami kemudian berlari sambil tertawa membayangkan apa saja yang akan kita lakukan setelah keluar dari gang panjang dan berliku ini. Kami menyusun berbagai rencana dan impian sehingga rasanya nyaris dekat dengan nyata. Kami berlari, berlari, dan berlari... hingga akhirnya dia kelelahan dan dini hari mundur menjadi malam. Kerik jangkrik bahkan tak terdengat. Langkahnya terhenti pada hitungan dini hari ke 200.

“Kenapa kamu berhenti?” tanyaku.
“Percuma kita berlari, hanya akan membuat kita lelah dan sakit”
“Setidaknya walaupun lelah dan sakit, kita punya satu sama lain”
“Tidak, pokoknya tidak!” dia membalikan badannya, berlari menuju simpangan gang dibelakang.

Saat aku berusaha mengejarnya, dia sudah tidak terlihat lagi dimanapun, larinya begitu kencang. Lututku lemas, badanku ambruk. Kini siapa yang akan berjuang bersamaku untuk keluar dari sini. Pada awalnya aku mampu terus berjalan berharap menemukan jalan keluar. Namun saat bertemu dengannya dan segala hal yang kami bagi bersama, aku jadi menyadari aku jadi terbiasa bergantung pada seseorang. Seseoarang yang memberiku harapan akan cahaya walau pada kenyataannya dini hari belum beranjak menjadi pagi. 

Kini aku tidak berlari mencari jalan keluar, yang aku lalui dari malam-malam tanpa akhir ini adalah duduk termeung, menyibakkan bayang-bayang tentang harapan yang datang soal cahaya. Aku hanya duduk disini, di tengah gang sepi yang dingin. Sendirian. Tidak percaya akan cahaya. Hanya menunggu kapan mati. Aku meresapi rasa lelahku berlari, meresapi luka-luka pada kakiku karna tidak berhenti berlari, pada punggungku yang menyerah untuk tegak berdiri. Pada malam ke tujuh dari malam-malam sepanjang waktu, dari simpangan gang aku melihat cahaya. Namun, aku yang tak lagi percaya hanya diam tidak beranjak kemana-mana. Namun cahaya itu semakin kuat dan tampak mendekat.

Munculah sosok lelaki, mungkin ia sedikit lebih tua dariku. Dia tersenyum padaku. Aku tidak dapat dengan mudah mempercayai senyum itu. Semakin dia mendekat semakin aku curiga atas setiap langkah yang ia buat. Padahal jauh dari dasar hatinya dia tulus ingin membantuku. Namun traumaku karena ditinggalkan ketika sama-sama berlari adalah nyata dan aku tak mau mengulanginya lagi. Dia mendekat dan semakin mendekat, dia lalu menjulurkan tangannya dan berkata..

“Ayo, aku tahu jalan keluar dari sini” seraya tersenyum tulus.

Pada awalnya aku tak percaya, namun entah kenapa aku menyambut tangannya. Tangannya hangat. Aku bangkit dari tempatku. Dan berjalan sambil bergandengan dengannya. Walau pada awalnya aku penuh curiga kepadanya namun seiring perjalanan yanga kami lalui aku sedikit demi sedikit mempercayainya. Namun aku merasa harus berlari, mengapa dengannya aku hanya berjalan. Lambat sekali... rasa gemas itu berubah menjadi kesal karena aku bosan berjalan.

“Ayo lari! Kapan sampainya kalau jalan selambat ini?” aku memarahinya.
“Tidak bisa ya kamu sabar? Sudah untung aku mau membawamu menuju cahaya yang selama ini kamu cari-cari itu!” dia berbalik marah padaku.
“Kamu kok memarahi peremuan! Kalau kamu mau aku nurut padamu ya yang lembut padaku”
“ini sudah keberapa kali kamu terus mengeluh, terus membandingan caraku berjalan dengan pangalamanmu berlari. Ini aku dan aku harap kamu memahamiku juga. Bukannya berterima kasih!”

Dia melepaskan pegangannya. Meninggalkan aku di gang gelap ini lagi. Tanpa cahaya. Tanpa kehangatan tangannya. Dia pergi. Mengapa? Mengapa semua orang pergi? Apa memang tempatku disini? Di gang gelap, sepi, dan dingin ini sendirian. Kemana orang-orang yang mencurahkan dan membagikan serta menyertakan aku dalam mimpi-mimpi mereka akan cahaya. Mereka meinggalkan aku sendirian, berakhir sendirian, apa memang aku tak pantas mereka bawa menuju cahaya? Kenapa kegelapan ini selalu menyertaiku sehingga membuat orang-orang itu pergi. Tidak ada kah yang memahami kegelapan itu? Bahwa akupun tak menginginkannya. Jadi tolong.... siapapun tolong aku kuar dari kegelapan ini. Tolong..... bukan dengan ditinggalkan, tolong bangkitkan aku, bopong aku karena aku sudah tidak kuat lagi mencari jalan keluar dari sini. Aku tidak kuat. 

Tolong....
Tolong....







Siapapun....









Tolong aku...........














Ilalang,
23 April 2017
15.00 | bandung

Monday, March 6, 2017

Bukit, book n° 3 : Fin.

sampailah aku pada ujung tebing setelah ku menetap dan berkelana di bukit penuh kenangan ini. tebing yang sesungguhnya tak ingin kujumpai, namun inilah kenyataannya, aku telah sampai.
dua puluh satu bulan sungguh bukan waktu yang sebentar, apalagi diselingi perpisahan dan pertemuan kembali, tanpa kemana-mana, tanpa ada perubahan untuk bisa maju bersama-sama. kamu melaju sendiri, dan aku merasa sendiri. aku tidak bilang bahwa dua puluh satu bulan kemarin adalah sebuah perjalanan yang sia-sia. namun juga bukan yang terbaik, karena sebuah hubungan yang terbaik adalah yang bisa bertahan dan tidak saling menyakiti, eventually. sebuah buku penuh dengan mimpi-mimpi dan to-do-list di masa depan harus ditutup. i think i had enough for him.

ya, kami adalah keegoisan yang tidak bisa kami redam.

niki once told me, "mental illness is not an excuse to treat people like a crap", walaupun aku tidak merasa menjadi crap, ya... aku juga merasa tidak diperlakukan dengan baik sebagai wanita. dan akupun sebagai wanita memiliki kadar kecemburuan yang membabi buta. bukan tanpa alasan dan rasanya tak perlu kujelaskan alasannya, alasan itu akan selalu kuingat untuk diriku sendiri. jika sebuah hubungan sudah sampai pada titik saling menyakiti dan tidak peduli jika sudah menyakiti hati pasangannya, itulah titik dimana aku rasa untuk apa lagi mempertahankan sebuah janji di masa depan, bahkan janji yang pernah dibuatpun kerap kali dilanggar. saat aku bercerita pada Al bahwa aku dan bukit sudah selesai, dia kaget bukan main, ia bilang aku dan bukit sudah cocok. namun setelah kujelaskan alasannya, Al menambahkan kesimpulannya. "kamu dengan bukit itu cocok, namun tidak pas". 

entahlah, yang benar-benar pas itu yang seperti apa. karena setauhku pasti ada saja hal yang tidak kita sukai dari pasangan kita. namun aku tahu betul, dimana batasku untuk memaklumi dan berkata "sudah cukup". aku tidak membenci bukit, aku peduli padanya, walau sesungguhnya melupakannya bukan hal yang mudah, kalau kata ST12, butuh waktuku seumur hidup~ hahaha. tapi ya, aku harus melangkah maju. begitupun dirinya. yang kutahu, dia sudah tumbuh menjadi pria pekerja keras berprestasi yang disayang oleh banyak orang. seharusnya dia tidak lagi merasa kesepian dan tugasku sudah selesai. 

fase dewasa awal-dewasa madya ku lalui dengannya yang juga sedang peralihan antara remaja akhir-dewasa awal. tentu pergejolakan emosi, problematika, visi, cara pandang, cara menyelesaikan masalah menemui titik hantamnya sendiri, dan baru kusadari, yang kita lakukan setengah tahun terakhir hanyalah meneruskan kebiasaan dan bertahan. akupun kasihan pada bukit yang harus menghadapi aku, yang merepotkan ini, menjadi tambahan beban pikirannya. sehingga sempat aku berfikir "aku terlalu cepat bertemu dengan bukit". sesunggunya disitulah aku paham makna save the best for the last.

tapi dunia nampaknya tidak membiarkanku terlarut dalam drama yang berlarut-larut. perspektif dibalut quotes-quotes tumblr ataupun puisi-puisi sendu lang leav. kesakitan itu bukan untuk dinikmati, namun disembuhkan, walau 'it's okay to be sad'. aku sudah berulang kali terjatuh dan selalu mendapatkan caraku untuk bangkit (tidak pernah jauh dari pertolongan-Nya tentunya). aku harus terus bergerak maju. buku-ku dengan bukit sudah kututup namun masih kubawa, belum dapat kutinggalkan di perpustakaan. namun suatu saat mungkin bisa dan akan menjadi buku tua favoritku.

aku tidak mau mempersulit perpisahan ini dan menjadi beban di hatimu (juga hatiku)
"terima kasih bukit untuk pelajarannya, waktunya, dan segala hal pada dua puluh satu bulan of a hella sweet roller coaster ride. kamu lelaki yang baik, aku bangga padamu, semoga bahagia selalu. jangan cepet-cepet kalo Sholat :)) cawang, bawang, bangbayang!"



---

terima kasih untuk lautan yang telah menangkapku ketika terjatuh dari tebing di ujung bukit. semoga aku bisa tenggelam bersamamu untuk selamanya dan tidak perlu terjatuh lagi. jangan saling menyakiti ya! :)

Thursday, February 23, 2017

Puan di penantian

Wahai tuan di peraduan
Kini lewat pukul sembilan
Lelahmu berkawan kesepian
Di bawah redup cahaya rembulan

Akulah puan di penantian
Meniti detik menunggu tuan
Hingga tiba saat perjumpaan
Menyapa kecup dan bermesraan





Ilalang
23 Februari 2017
Bandung, 23:31

Monday, January 16, 2017

kedai dan kopi



Ah mungkin kalau saya mengepost foto semacam itu kamu mengira saya ada di kedai kopi hanya untuk mendapatkan stok foto bagus atau biar dibilang hits mainnya ke kedai kopi. namun percayalah kawan, tidak, saya bukan orang yang seperti itu. 

kesukaan saya pada kopi bermula dari saya yang hanya memesan Iced Coffee Latte di setiap tempat yang menyajikan kopi karena harganya yang relatif ditengah-tengah, karena dibawahnya ada americano atau espresso, dan diatasnya ada creme brulee, afogato, dan macchiato. dulu saya hanya tau vanilla late, itu juga karena ada dalam sachet dan saya bisa membelinya kapan saja di warung. dulu juga jika saya menulis cerpen, saya hanya bisa membuat tokoh utamanya meminum vanilla late / cafe latte karna hanya itu rasa yang bisa saya deskripsikan dengan jelas. pada suatu hari, saya pergi ke kedai kopi ini bersama Bukit. selagi saya memesan cafe latte, dia memesan kopi bali. dia menawarkan saya untuk mencobanya. dan saya pun walau sedikit enggan (karena tidak pernah minum kopi hitam) mencobanya.

Dan kopi bali itu mengalir di tenggorokan saya seraya mengejek saya yang baru saja merasakan bahwa ternyata kopi lain pun enak, bahkan kopi hitam tanpa gula pun enak. sejak saat itu saya mencoba hampir (namun belum semua) jenis kopi yang ada di menu di setiap tempat, baik kopi hitam atau kopi-kopi fancy nano-nano. ada satu hal yang selalu membuat saya suka kopi. kopi adalah teman berkontemplasi yang sungguh tepat. ngopi itu tidak bisa sekali habis karna kalau langsung habis namanya "haus" bukan "ngopi". saya tidak pernah punya masalah baik itu kopi yang digiling atau disobek, saya tidak pernah memberi standarisasi pada diri saya mesti minum kopi yang seperti apa. namun rasanya setiap saya mencoba kopi yang berbeda ibarat berkenalan dengan teman baru, yang saya akan tahu kapan teman yang mana yang cocok menemani saya saat itu. 

bagaikan quality time, coffe-complex-romance, overly attached coffee lover, saya tidak begitu suka dengan keadaan kedai kopi yang ramai, yang ada anak-anak SMA foto-foto sambil ngegosip kenceng-kenceng. atau playlist yang tidak mendukung romantisme saya dengan kopi. walaupun sambil ngopi saya sambil online, kerja, atau baca buku, saya tidak pernah kehilangan rasa kopi itu ketika saya sendirian. 



saya juga memiliki cerita dibalik kopi. Kopi membuat saya tetap terjaga ketika menunggunya terlelap. saya banyak sekali menukarkan jam tidur saya untuk menemaninya terlelap, bukan karena ada hal yang saya kerjakan, baik itu tugas maupun kerjaan, saya menemani bukit hingga ada diantara kami yang mengantuk duluan. tapi saya sungguh tidak berkeberatan dengan hal itu, karena pada siang hari kami jarang sekali kontakan dan baru bisa kontakan setelah jam 8 hingga tengah malam, bahkan jika sedang berdebat sampai adzan subuh kita masih terjaga. kopi selalu menemani saya. walaupun kadang jantung saya berdebar kencang ketika bangun tidur karena kebanyakan kafein. 

ah pokonya kopi itu spesial mau bagaimanapun cara pengolahannya!apalagi dinikmati di kedai kopi favorit pada jam-jam sepi. huwww <3