ku berdandan dengan maskara yang terlebih dulu luntur
ku biarkan bibirku tidak terpoles, seperti sesederhana yang kau suka
ku kenakan dress hitam yang kau bilang sangat pantas jika aku mengenakannya
senyum ini begitu ingin hadir
namun berat tersapu air mata
bibir ini gemetar akibat tidak dapat membendung keduanya
di tengah lantai ruang tengah kuputar repetisi lagu itu
denting piano mulai bergema
menusuk kedalam rongga hati yang kini entah apa bentuknya
aku mengambil posisi untuk berdansa berdiri di hadapanmu
seperti biasanya... seharusnya
kakiku mulai bergerak mengikuti irama
piano berdenting lambat yang selalu mencipta romantisme diantara kita
lagu tentang perpiashan namun selalu menjadi favorit kita
namun kini tanpa kau sebagai pasangan berdansaku
aku berdansa dengan bayangan...
bayangan tentang kamu yang dulu
yang begitu hangat dan ceria
begitu menyayangi aku sampai kau menitikkan airmata jika perpisahan terucap
bahkan jika hanya wacana, kau tidak mau mendengarnya
kau tidak mau kehilangan aku
gerakan dansaku mulai melambat
tubuh ini begitu berat menanggung beban imaji tentang kau
yang seharusnya ada disini memelukku erat
harum tubuhmu akan memenuhi paru-paruku hingga terasa damai
semerta air mata semakin deras mengalir
kamu tidak ada disini
kamu tidak lagi menenangkanku ketika sedih
yang menyeka air mataku lalu memelukku
dan mengatakan semua akan baik-baik saja
kamu melangkah menuju jenjang hidup barumu
sedangkan aku yang pernah ada disana
telah kamu tarik mudur untuk kembali merasakan cinta picisan
yang manja dan puitis namun akhirnya aku menyadari
itu yang selama ini tidak aku dapatkan dari yang lain
hanya kamu... dan sekarang kamupun tidak menginginkannya lagi
dilantai aku meringkuk kehilangan
masa depan itu kian buram..
yang dulu kita rancang sebegitu nyata
yang kita sebut-sebut dalam doa
kini dihalau dengan alasan mayoritas orang
padahal kamu tahu, kita ini berbeda
tidak akan ada yang mengerti rasanya jadi kau
rasanya jadi aku, dan perasaan kita berdua
kini kita hanya akan jadi debu-debu yang berterbangan
kita tidak ada bedanya dengan yang lain
kita yang benar-benar kita telah menemui ajalnya
tangisku tidak bersuara
sakitnya hanya ada di dalam dada
semua yang telah terlewati harus disudahi
dilupakan, dikubur dengan nisan bertuliskan kenangan
namun awal yang baru selalu lebih menakutkan
kamu tidak pergi...
namun kamu membatasi kita
apakah perasaanmu juga begitu?
jika ya, aku kini sudah jadi raga tanpa jiwa
karena aku kehilangan jiwa yang membuatku hidup
yang kau ambil kembali kini
tanpa masa lalu, tanpa masa depan
engkau menyodorkan tanganmu agar aku bangkit dari tangisku
kau bilang kau akan selalu bersama ku
tapi kini, kita tidak akan kemana-mana
kita hanya punya tangan yang saling menggenggam ini
namun terasa dingin
Bandung, 4 Juli 2016
Ilalang