Aku berada di tengah gang yang kumuh, dingin, gelap, dan sepi. Aku berusaha mencoba mencari jalan keluar, tapi tetap tidak kutemui cahaya. Yang kulalui dari hari-ke-hari hanyalah malam. Yang masih didalam gang ini, yang kian hari semakin dingin. Aku berjalan, berjalan, dan terus berjalan... sampai pada suatu simpangan gang, aku bertemu seseorang. Seorang lelaki yang kelihatannya sedikit lebih muda dariku. Auranya sangatlah pekat, dia seperti memendam kesedihan yang sangat mendalam. Aku coba mendekatinya, namun ia menangis, semakin aku mendekatinya, semakin kencang ia menangis sampai-sampai aku bisa merasakan luka yang ia rasakan di dalam hatinya. Walau pancaran kesedihannya merobekkan kulit dan hatiku, aku terus berusaha mendekatinya. Karena aku tahu rasanya ada di dalam ketersesatan ini.
Sampai akhirnya aku dapat menyentuhnya. Aku memeluknya erat. “Aku mengerti lukamu” kubisikkan pada telinganya.
Mendadak malam lambat laun terasa menjadi dini hari dan kerik jangkrik perlahan-lahan berubah menjadi kokokan ayam. Dia berbalik memelukku sambil senggukan pertanda lukanya perlahan sirna. Pada hari-hari selanjutnya aku menyemangati dia untuk sama-sama mencari jalan keluar, mencari cahaya. Kami kemudian berlari sambil tertawa membayangkan apa saja yang akan kita lakukan setelah keluar dari gang panjang dan berliku ini. Kami menyusun berbagai rencana dan impian sehingga rasanya nyaris dekat dengan nyata. Kami berlari, berlari, dan berlari... hingga akhirnya dia kelelahan dan dini hari mundur menjadi malam. Kerik jangkrik bahkan tak terdengat. Langkahnya terhenti pada hitungan dini hari ke 200.
“Kenapa kamu berhenti?” tanyaku.
“Percuma kita berlari, hanya akan membuat kita lelah dan sakit”
“Setidaknya walaupun lelah dan sakit, kita punya satu sama lain”
“Tidak, pokoknya tidak!” dia membalikan badannya, berlari menuju simpangan gang dibelakang.
Saat aku berusaha mengejarnya, dia sudah tidak terlihat lagi dimanapun, larinya begitu kencang. Lututku lemas, badanku ambruk. Kini siapa yang akan berjuang bersamaku untuk keluar dari sini. Pada awalnya aku mampu terus berjalan berharap menemukan jalan keluar. Namun saat bertemu dengannya dan segala hal yang kami bagi bersama, aku jadi menyadari aku jadi terbiasa bergantung pada seseorang. Seseoarang yang memberiku harapan akan cahaya walau pada kenyataannya dini hari belum beranjak menjadi pagi.
Kini aku tidak berlari mencari jalan keluar, yang aku lalui dari malam-malam tanpa akhir ini adalah duduk termeung, menyibakkan bayang-bayang tentang harapan yang datang soal cahaya. Aku hanya duduk disini, di tengah gang sepi yang dingin. Sendirian. Tidak percaya akan cahaya. Hanya menunggu kapan mati. Aku meresapi rasa lelahku berlari, meresapi luka-luka pada kakiku karna tidak berhenti berlari, pada punggungku yang menyerah untuk tegak berdiri. Pada malam ke tujuh dari malam-malam sepanjang waktu, dari simpangan gang aku melihat cahaya. Namun, aku yang tak lagi percaya hanya diam tidak beranjak kemana-mana. Namun cahaya itu semakin kuat dan tampak mendekat.
Munculah sosok lelaki, mungkin ia sedikit lebih tua dariku. Dia tersenyum padaku. Aku tidak dapat dengan mudah mempercayai senyum itu. Semakin dia mendekat semakin aku curiga atas setiap langkah yang ia buat. Padahal jauh dari dasar hatinya dia tulus ingin membantuku. Namun traumaku karena ditinggalkan ketika sama-sama berlari adalah nyata dan aku tak mau mengulanginya lagi. Dia mendekat dan semakin mendekat, dia lalu menjulurkan tangannya dan berkata..
“Ayo, aku tahu jalan keluar dari sini” seraya tersenyum tulus.
Pada awalnya aku tak percaya, namun entah kenapa aku menyambut tangannya. Tangannya hangat. Aku bangkit dari tempatku. Dan berjalan sambil bergandengan dengannya. Walau pada awalnya aku penuh curiga kepadanya namun seiring perjalanan yanga kami lalui aku sedikit demi sedikit mempercayainya. Namun aku merasa harus berlari, mengapa dengannya aku hanya berjalan. Lambat sekali... rasa gemas itu berubah menjadi kesal karena aku bosan berjalan.
“Ayo lari! Kapan sampainya kalau jalan selambat ini?” aku memarahinya.
“Tidak bisa ya kamu sabar? Sudah untung aku mau membawamu menuju cahaya yang selama ini kamu cari-cari itu!” dia berbalik marah padaku.
“Kamu kok memarahi peremuan! Kalau kamu mau aku nurut padamu ya yang lembut padaku”
“ini sudah keberapa kali kamu terus mengeluh, terus membandingan caraku berjalan dengan pangalamanmu berlari. Ini aku dan aku harap kamu memahamiku juga. Bukannya berterima kasih!”
Dia melepaskan pegangannya. Meninggalkan aku di gang gelap ini lagi. Tanpa cahaya. Tanpa kehangatan tangannya. Dia pergi. Mengapa? Mengapa semua orang pergi? Apa memang tempatku disini? Di gang gelap, sepi, dan dingin ini sendirian. Kemana orang-orang yang mencurahkan dan membagikan serta menyertakan aku dalam mimpi-mimpi mereka akan cahaya. Mereka meinggalkan aku sendirian, berakhir sendirian, apa memang aku tak pantas mereka bawa menuju cahaya? Kenapa kegelapan ini selalu menyertaiku sehingga membuat orang-orang itu pergi. Tidak ada kah yang memahami kegelapan itu? Bahwa akupun tak menginginkannya. Jadi tolong.... siapapun tolong aku kuar dari kegelapan ini. Tolong..... bukan dengan ditinggalkan, tolong bangkitkan aku, bopong aku karena aku sudah tidak kuat lagi mencari jalan keluar dari sini. Aku tidak kuat.
Tolong....
Tolong....
Siapapun....
Tolong aku...........
Ilalang,
23 April 2017
15.00 | bandung
