Pages

Wednesday, June 3, 2015

(bolehkah berfikir untuk) menjadikan yang hanya satu hingga selamanya

dulu, saya adalah tipikal orang yang menganggap pacaran itu tidak penting berapa lamanya, jalani ya jalani saja. putus? ya putus saja. ada masalah, tidak pernah diselesaikan hingga ada kesepakatan dari kedua belah pihak untuk menyudahi hubungan yang telah dijalani. kadang, putus hanyalah perkara siapa duluan yang menyerah akan hubungan yang dijalani. hingga nenek saya saja yang selalu jadi tempat saya curhat tentang orang yang dekat dengan saya sering tertukar menyebutkan nama laki-laki yang jadi pacar saya saking seringnya berganti dari satu nama ke nama yang lainnya. yang lucunya selalu berawalan huruf A.

hal itu tidak berarti saya tidak pernah serius dalam berpacaran. tapi saya adalah orang yang memilih untuk memiliki zona nyaman untuk berpulang. dimana saya bisa mengekspresikan segala hal yang mungkin tidak bisa saya tunjukan pada semua orang. kasih sayang saya, kelemahan saya, san saya yang benar-benar saya. menyoal tipe saya hanya berharap akan laki-laki yang dapat membuat saya tertawa. saya yakin semua laki-laki itu baik, sebegundal apapun pasti punya sisi baik, sehingga baik itu relatif. tapi yang bisa membuat saya tertawa itu hanya segelintir. dapat berbagi earphone dan bercerita tentang kegemaran masing-masing (yang dalam hal ini adalah menyoal seni) adalah nilai plusnya. memangnya ada yang lebih menyenangkan dari memiliki pasangan yang juga dapat menjadi teman hidup? :)

saya sendiri sadar, saya tidak secantik dian sastro atau chelsea islan. dan manusia paling tampan itu nabi yusuf dan alm.ayah saya di urutan kedua. maka fisik tidaklah pernah jadi hal yang saya prioritaskan untuk mencari pasangan. raga bisa berubah, sifat tidak.

kemarin, saya bermimpi, dan lewat mimpi itu saya belajar. saya sungguh bersyukur mimpi itu datang di awal. mimpi yang meyakinkan saya bahwa orang yang tepat bukan menyoal watu pdkt yang lama. namun ada sesuatu yang mengikat sejak awal : keyakinan. dan keyakinan itu yang harus saya jaga. saya (atau kami) hadapi di masa-masa yang akan datang. keyakinan untuk menjadikan yang hanya satu hingga selamanya. cara berfikir jalani-dan-putus-saja sudah tidak akan berlaku lagi mulai saat ini. saya terlalu lelah utnuk kembali terombang-ambing di lautan luas. saya ingin terus mengalir di sungai yang tenang ini bersama bukit. hingga sampai ke air terjun yang sama dan mengalir lagi di sungai tenang yang lain. hingga kita berdua sampai di lautan luas milik kami berdua. saya tidak akan bermain-main lagi. 

jika segelintir orang berfikir "ngapain serius-serius? masih muda ini" saya berasumsi, mereka belum menemukan orang yang tepat. saya? sudah. maka saya tidak lagi berfikir seperti itu. terlebih bukit juga berkata dia pun merasakan hal yang sama. maka keyakinan itu yang harus kami jaga hingga nanti. hingga selamanya. 

jodoh memang di tangan Yang Maha Esa, tapi saya (atau kami) akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga keyakinan itu hingga kapanpun. sehingga jika terjadi gelombang dasyat, kami akan kembali pada keyakinan itu, yang akan menguatkan kami kembali pada arus tenang di sungai yang panjang ini. saya selalu mengucap syukur dalam setiap doa Allah SWT telah mempertemukan saya dengan bukit. saya akan menjaga hati dan diri saya untuknya karena kita terpisah jarak. tapi saya yakin, jarak bukanlah masalah karena ada hati yang selalu mendekatkan kami.

maka, bolehkan saya berfikir untuk menjadikan bukit hanya satu untuk selamanya?
karena saya sudah yakin. karena saya sudah menemukan yang paling tepat untuk saya sekarang dan selamanya.


Tuesday, June 2, 2015

bukit dan ilalang

harapan menghampar diatas ladang ilalang. biar saja hilang yang ada di belakang. aku menantang kepada tuan, dapatkah rutinitas ini menjadi sebuah kontinuitas yang berarti? atau dibiarkan berlarut sehingga kelamaan menjadi hambar? aku bukanlah orang yang senang dihempas gelombang dan mengikuti arus. rakus menerjang alang demi cahaya terang, memberi arti pada setiap hari yang dilalui. agar berwarna hari bukan sekedar terkena serbuk pelangi. maka apakah tuan memiliki jawabannya? sebelum hilang diterjang elang. tanya yang mungkin tak datang lain waktu. bilamanakan tuan? 

aku datang bukan menyimpang. dari tatap pertama sudah sebuah pertanda. aku pernah dihempas ombak hingga tenggelam dalam kelam. sendiri dalam kepiluan. namun rasa itu telah hilang terhapus seseorang dalam ilalang, yang aku jumpa tanpa wacana. semua berjalan begitu manis, nona. ilalang tidak mungkin menghempaskanku kembali dalam ombak dan membiarkan aku tenggelam. aku ada untukmu ilalang. dalam selimut kabut aku berharap untukmu, tidak mengharap lebih selain menjadi hangat dan cahaya untuk gelap dan dingin, berdua menjadi serasi dan begitu nyaman untuk kita, gunung dan kabut. bukit dan ilalang. tak berdaya mungkin aku bukan hasrat nona untuk berpijak dan melawan angin bersama, aku hanya sebuah bukit bukan gunung yang kau cari, aku mungkin hanya bukit tandus bukan lembah segar tempat rusa berlari. masih inginkah tumbuh meski hanya sepucuk di bukit ini? 

dari dasar jurang aku menerawang. bukan mimpi aku bisa dibawa terbang. cahaya dan hangat yang kau beri sudah lebih dari apa yang menahun dinanti. ketika patah arah di tengah padang ilalang. coba tebak hati siapa yang berhasil dibawa pergi hanya dengan diselimuti rasa nyaman bercanda diatas bukit dan mendengarkan senandung alam? bukan puncak gunung yang sulit didaki dan mungkin dijalan bisa mati. bukan jua keagungan yang aku tuju, tuan. tapi dengan semesta sederhana yang kau bawa untukku, rasanya aku tidak perlu lagi bertanya pada hatiku kemana aku akan pergi. karena di bukit walau dengan ilalang yang luas, bersamamu tuan, aku tidak lagi tersesat.

tanamkan akarmu pada tanahku ini supaya bisa menemaniku diterjang angin dikala hujan deras dan akan kuhidupi kau dengan organik yang hidup padaku akan aku lindungi kau dari tajamnya sinar matahari dengan kemampuanku untuk menumbuhkan pepohonan yang rindang. akan aku pegang erat supaya kamu tidak putus dari akarnya.

kicau merdu paraumu.. puisi tengah malam mengaburkan ingar bingar menjadi temaram. sesungguhnya aku ingin melakukan hal yang sama. tapi aku terbujur kaku. membeku di raga pemalu. biar aku katakan dengan seksama dan penuh raga jiwa. aku ingin kita bersama hingga nirwana. malam itu aku menjadi bukit, kamu menjadi ilalang. elok gemulai rupa mu, indah sikapnya. presensimu lembut, terang damaikan jiwa. namun aku hanya tanah. bukan lembah yang ilalang harap. entah organik apa yang kau cari.

tapi aku ingin bersamamu. mengikat akarmu, memberimu semesta untuk hidup. temani aku saat hujan. panas. dan angin malam. aku tidak bercanda



maukah kau jadi ilalangku?




menit pertama untuk selamanya

 
kita dipertemukan oleh hati yang sama-sama resah. dari kamu yang merantau ke kota kemarau. dan aku yang ditinggal hati dibiarkan tunggal. keluh akan peluh yang selalu menghantui raga dan jiwa. kita adalah manusia-manusia tanpa rumah berpulang untuk sekedar merebah lelah. 

kita dipersatukan oleh nada. waktu dan irama ketika bersenandung bersama. malam dimana aku baru menyadari, hal yang aku butuhkan segalanya terdapat pada kesederhanaan canda dan kelembutan sikapmu. aku yang selama ini tangguh bagai batu, ternyata rapuh di hitungan kesepuluh. ketika hangat senyummu dan damai parasmu menghanyutkan segala keraguanku. aku jatuh cinta, pada menit pertama. 

kepada kamu wahai rusuk, aku akan menggenapkan tulangmu yang hilang. dekaplah aku hingga nirwana. sehingga bahagia akan selalu menjadi rumah untuk berpulang. demi serpihan aksara yang kau susun penuh makna, dan kata yang yang menjadi rima. kepadamu selamanya, aku jatuh cinta.

sepucuk senyum dari individu yang (terus) berevolusi

hallo, perkenalkan, saya ed. saya adalah individu yang baru. hal ini mungkin bisa jadi penjelasan singkat terhadap apa yang telah terjadi pada saya selama dua puluh tahun terakhir. tapi, memangnya siapa yang tidak? betul?

saya adalah anak tunggal dari satu bersaudara. saya lahir dari rahim seorang wanita tercantik di dunia, paling cerdas, paling bijaksana. lahir dengan merepotkan karena saya lahir jam 12 tengah malam ketika bidan sedang tidur di rumahnya.

tumbuh dan besar dengan kegemaran akan menggambar. lalu pada jenjang smp mulai suka membaca buku. kemudian membuat blog perdana dengan pembawaan ala raditya dika. ketika saya beranjak pada masa remaja, saya suka membaca novel dan kenal dengan dunia sastra (walaupun bukan sastra berat). lalu saya membuat blog dengan pembawaan yang lebih drama, lebih sensitif, karena masa-masa itu adalah masa dimana saya mengalami banyak konflik percintaan. 

sedikit tentang percintaan. satu blog saya bisa berisi tentang empat-sampai-lima nama laki-laki yang berbeda (dan blog saya tidak cuma satu, HAHA!). nama mereka disamarkan seperti : langit, april, cumi, kumis, dsb. saya adalah tipe orang yang sangat perasa, jadi setiap ada kejadian tentang mereka, pasti saya akan menuliskannya di blog (sebagaimana yang selalu saya lakukan sejak SMP). semua berisi tentang kesenangan jatuh cinta dan berakhir karena cerita saya dengan lelaki-lelaki itu kandas.

tapi, seperti yang saya sudah singgung di awal, saya sekarang adalah individu baru. 

saya tidak bilang bahwa saya tidak akan merasa gundah dan mengeluhkannya di blog. tapi kini saya merasa lebih objektif memandang tentang perkara yang terjadi di hidup saya. saya sudah mulai bisa meminimalisir kadar drama dalam hidup saya. bukan lagi lautan dengan ombak yang tinggi, namun sungai dengan arus yang tenang.

oh, dan saya juga mau memperkenalkan bukit. bila suatu saat muncul nama ini, saya sedang membicarakan tentang seseorang yang semoga akan selalu menjadi tempat saya berpulang sejauh apapun saya melangkah. begitu juga sebaliknya. 

dan satu lagi, disini saya bertransformasi.
kita lakukan sekali lagi ya...

halo, saya ilalang
dan ini adalah catatan, pikiran, dan sedikit diari visual saya.
salam kenal :)