dulu, saya adalah tipikal orang yang menganggap pacaran itu tidak penting berapa lamanya, jalani ya jalani saja. putus? ya putus saja. ada masalah, tidak pernah diselesaikan hingga ada kesepakatan dari kedua belah pihak untuk menyudahi hubungan yang telah dijalani. kadang, putus hanyalah perkara siapa duluan yang menyerah akan hubungan yang dijalani. hingga nenek saya saja yang selalu jadi tempat saya curhat tentang orang yang dekat dengan saya sering tertukar menyebutkan nama laki-laki yang jadi pacar saya saking seringnya berganti dari satu nama ke nama yang lainnya. yang lucunya selalu berawalan huruf A.
hal itu tidak berarti saya tidak pernah serius dalam berpacaran. tapi saya adalah orang yang memilih untuk memiliki zona nyaman untuk berpulang. dimana saya bisa mengekspresikan segala hal yang mungkin tidak bisa saya tunjukan pada semua orang. kasih sayang saya, kelemahan saya, san saya yang benar-benar saya. menyoal tipe saya hanya berharap akan laki-laki yang dapat membuat saya tertawa. saya yakin semua laki-laki itu baik, sebegundal apapun pasti punya sisi baik, sehingga baik itu relatif. tapi yang bisa membuat saya tertawa itu hanya segelintir. dapat berbagi earphone dan bercerita tentang kegemaran masing-masing (yang dalam hal ini adalah menyoal seni) adalah nilai plusnya. memangnya ada yang lebih menyenangkan dari memiliki pasangan yang juga dapat menjadi teman hidup? :)
saya sendiri sadar, saya tidak secantik dian sastro atau chelsea islan. dan manusia paling tampan itu nabi yusuf dan alm.ayah saya di urutan kedua. maka fisik tidaklah pernah jadi hal yang saya prioritaskan untuk mencari pasangan. raga bisa berubah, sifat tidak.
kemarin, saya bermimpi, dan lewat mimpi itu saya belajar. saya sungguh bersyukur mimpi itu datang di awal. mimpi yang meyakinkan saya bahwa orang yang tepat bukan menyoal watu pdkt yang lama. namun ada sesuatu yang mengikat sejak awal : keyakinan. dan keyakinan itu yang harus saya jaga. saya (atau kami) hadapi di masa-masa yang akan datang. keyakinan untuk menjadikan yang hanya satu hingga selamanya. cara berfikir jalani-dan-putus-saja sudah tidak akan berlaku lagi mulai saat ini. saya terlalu lelah utnuk kembali terombang-ambing di lautan luas. saya ingin terus mengalir di sungai yang tenang ini bersama bukit. hingga sampai ke air terjun yang sama dan mengalir lagi di sungai tenang yang lain. hingga kita berdua sampai di lautan luas milik kami berdua. saya tidak akan bermain-main lagi.
jika segelintir orang berfikir "ngapain serius-serius? masih muda ini" saya berasumsi, mereka belum menemukan orang yang tepat. saya? sudah. maka saya tidak lagi berfikir seperti itu. terlebih bukit juga berkata dia pun merasakan hal yang sama. maka keyakinan itu yang harus kami jaga hingga nanti. hingga selamanya.
jodoh memang di tangan Yang Maha Esa, tapi saya (atau kami) akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga keyakinan itu hingga kapanpun. sehingga jika terjadi gelombang dasyat, kami akan kembali pada keyakinan itu, yang akan menguatkan kami kembali pada arus tenang di sungai yang panjang ini. saya selalu mengucap syukur dalam setiap doa Allah SWT telah mempertemukan saya dengan bukit. saya akan menjaga hati dan diri saya untuknya karena kita terpisah jarak. tapi saya yakin, jarak bukanlah masalah karena ada hati yang selalu mendekatkan kami.
maka, bolehkan saya berfikir untuk menjadikan bukit hanya satu untuk selamanya?
karena saya sudah yakin. karena saya sudah menemukan yang paling tepat untuk saya sekarang dan selamanya.

