Pages

Monday, December 28, 2015

kemana kita akan pulang, itulah tujuan kita hidup di dunia :)

saya tumbuh dan besar di keluarga yang tidak terlalu religius. (Alm.) kakek saya adalah seorang dosen psikologi yang berfikir sangat logis dan tidak pernah shalat semenjak usianya 25, namun sebelum meninggal beliau masih sempat bertaubat dan shalat juga sahum walau keadaannya sedang sakit. nenek saya baru berhijab setelah 50 tahun hidup di dunia. saya tidak pernah dimarahi ayah untuk shalat dan disuruh berhijab karena ayah saya meninggal sebelum saya lahir. tapi di balik semua itu, alhamdulillah... ibu masih sadar akan kebutuhan religius untuk ditanamkan sejak dini. 

saya dimasukan ke TPA ketika SD kelas 1 namun saya termasuk yang lambat dan hingga kelas 2 belum lulus iqra. saya kemudian melanjutkan TPA di dekat rumah saya ketika kelas 3-4 namun tetap sama. saya sangat lambat dalam belajar iqra, menghafal doa, bahkan bacaan shalat. di rumah pun karena ibu sibuk dan keadaan rumah (berisi kakek, nenek, om, dan ibu) yang tidak terlalu keras dalam menyuruh beribadah, saya pun akhirnya menganggap shalat itu kalau mau saja dan ada acara-acara besar seperti Idul Adha atau Idul Fitri. ibu walau sibuk selalu sempat bertanya "sudah shalat?”, kadang saya menjawabnya jujur ketika belum, namun lebih seringnya menjawab "sudah" agar kegiatan yang saya lakukan tidak terputus. kemudian ibu kembali sibuk. ibu juga sering meniggalkan saya untuk seminar di luar kota senigga saya lebih tidak terkontrol lagi ibadahnya. 

 selama saya bersekolah di SMP dan SMA, saya berhijab. Saya memutuskan berhijab untuk alasan agar saya lebih dapat menjaga diri saya dari perbuatan-perbuatan yang berakhir pada dosa. namun masih sekedar menjalankan perintah untuk menutup aurat, belum sampai kepada memperbaiki ahlak. saat kuliahpun seperti itu, saya masih juga banyak berbuat dosa dan shalat masih bolong-bolong. dulu, jika ada tayangan dakwah atau teman yang berdakwah secara formal di timeline berbagai sosial media, saya selalu mengignore dan mengescrollnya secara cepat.. kenapa? karena saya pikir kalau saya diceramahi, saya akan tau mana yang boleh dan yang tidak, yang seharusnya dan tidak seharusnya. Semuanya bisa membatasi dunia saya yang bebas dan ekspresif jadi tertutup. Saya terus terang saja tidak pernah baik dalam mata pelajaran agama. Nilai tidak pernah lebih besar dari 7,5.

tapi entahlah, Allah sepertinya sayang sekali sama saya dan merindukan saya kembali pada jalan-Nya. 

saya selalu takut akan kematian, banyak sekali teman dan keluarga bahkan berita kematian tentang orang lain bermunculan setiap hari. saya bukan mengkhawatirkan cara kematian seseorang (atau saya pada tepatnya), saya selalu mengkhawatirkan hidup setelah mati. Kehidupan yang lebih abadi. Selama bertahun-tahun hidup dalam melogikakan teori-teori dari buku pelajaran atau bertemu banyak orang dengan cerita dan berbagai pengalamannya bahkan hingga keangkuhannya, saya selalu takut kematian. Saya tidak ingin berakhir abadi di neraka, saya ingin bertemu ayah saya dan semua orang yang saya sayangi kelak di sebaik-baiknya tempat di surga. 

Hati saya selalu tergetar dengan kepala tertunduk setiap mengingat betapa baiknya Allah SWT masih membiarkan saya hidup walau saya jarang sengaja bertemu dengan-Nya dalam shalat. sebagai imbasnya, saya selalu bersedih hati dalam perihal memiliki pacar. Saya tidak pernah luput dari gelisah hati karena ditinggal atau diabaikan oleh orang yang saya sayangi. Hidup saya seperti berat sekali tanpa mereka. padahal saya memiliki satu-satunya yang Maha Penyayang. Tapi dulu saya begitu buta akan hal tersebut. Saya lebih sayang pada sesuatu yang fana, yang tidak selamanya.

Streetart dan dunia maya adalah pengalihan dari diri saya yang menyedihkan saat itu. saya mencoba menjadi “seseorang”, sesuatu yang dapat dilihat dan dipuji banyak orang karena keahlian saya. Hal itu bertahan selama 3 tahun dan telah membawa saya pada popularitas yang dulu pernah saya dambakan, tapi hati saya masih bersedih. Saya selalu bertanya akan makna saya hidup di dunia untuk menjadi berguna bagi orang lain. saya selalu hidup sebagai manusia, karena itu sisi kemanusiaan saya selalu tergugah namun belum juga pada sisi religius makna seorang manusia sebagai hamba Allah SWT. Ketika saya berusaha membangun makna saya bagi orang lain, saya selalu terhambat pada realisasi kegiatan tersebut karena saya lebih mementingkan dunia, mementingkan berapa uang yang bisa saya dapat dari kegiatan itu. keuntungan saya lebih banyak daripada kerugian, sehingga sepertinya susah sekali dapat restu dari Allah SWT karena alasan-alasan saya yang duniawi. Namun sebagai usaha paling kecil yang bisa saya lakukan, saya berusaha selalu jadi teman yang baik bagi teman-teman saya, tempat bercerita maupun berbagi. Saya mengikuti banyak kegiatan mengenal banyak orang agar bisa saling menguntungkan. 

namun hati saya masih selalu tergetar resah jika terbersit tentang Allah SWT dan kematian. Karena hal yang paling pasti dari seorang manusia adalah kematian, kan? 

kemudian, pada suatu hari sekitar sebulan yang lalu, teman saya datang ke rumah untuk saya bantu membuat kebutuhan desainnya. Setelah selesai membuat desain, kami selayaknya perempuan-perempuan lain curhat-curhatan. Saya bercerita tentang keadaan percintaan saya yang sedang ada masalah dengan pacar saya. entah darimana awalnya, dia bercerita tentang kisah Ramayana. tentang pandawa yang baik dan kurawa yang jahat. Namun pada masing-masing dari mereka ada sorang pandawa yang jahat dan kurawa yang baik. Pada intinya saya benar-benar jadi terdiam membisu menghayati, inilah jawaban dari keresahan pertanyaan saya selama hidup di dunia. 

“manusia tidak ada yang sempurna. Setiap orang baik pasti tidak luput dari kejahatan walau secuil, orang jahat pun pasti punya kebaikan walau secuil. Yang bisa kita lakukan adalah selalu memperbaiki diri dan berbaik sangka atas kehendak-Nya. kita selalu mempunyai dua pilihan sederhana, kalau bisa menjadi lebih baik, pilihannya hanya dua. Mau atau tidak? Kematian hanya Allah SWT yang tahu, bisa jadi besok, lusa, atau 50 tahun lagi. jadi sebelum kematian itu menjemput sungguh tidak ada salahnya untuk menjadi lebih baik. dan meninggal dalam keadaan baik”

Setelah itu saya benar-benar seperti terjawab keraguan saya utnuk memulai kembali ke jalan-Nya. keraguan untuk meninggalkan yang buruk dan memulai segala hal baik yang perintahkan, dianjurkan, dan diridhai-Nya dan menjauhan diri dari apa yang dibenci oleh-Nya. Semalaman saya memilikirkan kesimpulan yang saya dapat dari cerita teman saya tadi. Itu bukan pertama kalinya saya mendengar kisah Ramayana dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama Islam. Namun Hidayah selalu datang di waktu dan cara yang tepat. Allah SWT tau saya tidak suka diceramahi dengan dalil dan bahasa arab, maka Beliau menurunkan Hidayahnya agar saya menjadi lebih baik lewat teman yang benar-benar saya respect segala perkataannya dan saya dengarkan dengan baik. lewat Ramayana yang diceritakannya dengan bahasa dia yang sederhana. Lewat keadaan saya yang hampir patah arah selalu hidup dalam gelisah. Lewat dia saya yang dibutuhkan jasa desainnya. Saya berfikir, kalau saya tidak berteman dengannya, kalau saya tidak menjadi desainernya, kalau saat itu dia tidak berkunjung ke rumah saya, kalau saat itu dia tidak bercerita tentang Ramayana, pasti saya masih berada dalam kebingungan dan kegelisahan, bertanya semua pertanyaan yang sebenarnya jawabannya selalu hanya satu “diridhai atau tidak sama Allah SWT?”

maka sejak saat itu saya memutuskan untuk kembai ke jalan-Nya. tidak berharap akan pengakuan dan pujian dari manusia, melainkan hanya mengharap ridha Allah SWT semata. menjalankan segala kegiatan atas dasar menjalankan perintah-Nya. saya tidak lagi menutup diri dengan dakwah yang bisa membuat saya terjaga di jalan-Nya. dimulai dari hal paling sederhana dengan mengganti hijab menjadi yang lebih panjang agar sesuai fungsinya yaitu menutupi aurat berupa bentuk dan lekuk tubuh. saya belajar lagi menghafal bacaan dan doa-doa. saya selalu mengutamakan shalat setiap harinya dan saya selalu berbaik sangka atas kehendak-Nya. 

hidup saya kini lebih tenang, lebih ikhlas, lebih bersyukur, lebih tentram, jauh dari gelisah dan sedih. karena saya memiliki orang-orang baik yang mendukung perubahan saya untuk menjadi lebih baik dan tentunya saya selalu memiliki Allah SWT yang merangkul saya dalam Nur-nya yang meneduhkan hati saya. Yang meyakinkan saya bahwa hidup di duni ini hanya sebentar dan saya tidak lagi takut kematian. 

Saya rindu Allah SWT, Rasulullah SAW dan saya rindu tinggal di Surga :) 
I’ve been live there before i’m alive, then i wish i can come back there peacefully.

Insyaallah... Aamiin 





Ed, 2015

Wednesday, October 28, 2015

lima menit gelap

♪ melankolia - efek rumah kaca

Tuhan, lima menitku gelap. aku nyaris berkelana, namun ada bayang yang menjadikanku terangnya. bayang belum ingin terlelap. aku ingin terjaga dan menemaninya, aku ingin, Tuhan. pasangi galah pada kedua kelopak mataku, ada tawa dan senyumnya yang ingin kulihat lebih lama. ada peluk dan hangatnya yang masih ingin ku rasa. 

tapi kenapa ya Tuhan, lima menitku gelap? 

bayang ditelan gulita dan lima menitku menjadi separuh malam. separuh malam dipojok ruangan memeluk lutut berusaha mencari bayang. berkomat-kamit memohon maaf atas lima menitku yang gelap. 

seharusnya gelap itu menjadi sesuatu yang imut, jadi bahan tertawa ketika aku mulai berkomunikasi dengan bahasa planet yang mungkin luput. tapi kenapa, Tuhan, lima menitku yang gelap kini amat menyeramkan? aku mulai berfikir untuk mulai mabuk kafein sehingga insomnia akan menyelamatkanku dari lima menit yang tiba-tiba menjadi gelap.

Tuhan, aku ingin mengutuhkan malamnya. menutupnya dengan senyuman dan harapan... aku tak ingin hatinya hancur menjadi serpihan karena lima menitku gelap.

malam ini ku tatap sekali lagi jendelaku menuju bayang.
aku ketakutan............

Tuhan, aku harap insomnia dapat melindungiku pada hari mendatang
dari lima menitku yang gelap.


Friday, September 25, 2015

sedikit tentang menulis

hai aksara yang sudah lama tak ku eja.

aku ingin sedikit bercerita tentang yang tak pernah aku tulis; apa-apa saja yang sudah lewat. tentang bahagia yang melengkungkan sabit di bibir, tentang luka yang kusimpan tak ingn lagi ku buka. tentang malam yang hangat dan siang yang dingin. segalanya tak dapat aku rangkai dalam prosa panjang karena aku tak ingin menantang rasa pada orang yang ku sayang. memaksaku menulisnya hanya akan membuatku hilang rasa pada menulis, karena kini, menulis bukanlah rutinitasku. entah, aku mungkin sudah terlalu tua untuk mengeluh dan merasa galau yang berlarut.

aku pun hanya dapat merangkum bahagiaku dalam satu perasaan abadi seperti lilin yang tidak pernah mati. cahayanya remang di kegelapan namun terang dalam gulita. menghangatkan jiwa yang terjaga di dalam raga untuk seribu tahun lagi. dia adalah bukit tempat aku pulang. rumahku ada di dalam hatinya. dekapnya adalah sayap malaikat yang membuatku merasa aman dan nyaman, selalu ingin berlama-lama jika ada di sana. sudah tak perlu lagi ditanya rasa sayangnya kepadaku karena ia selalu berusaha tanpa cela untuk menjadi sempurna. tapi bagikut ketidak sempurnaan adalah sempurna. seperti ketidak seimbangan justu adalah seimbang. begitu juga dengan ketidak pastian adalah sesuatu yang pasti. sehingga tanpa ia harus menjadi sempurna, dia sudah sempurna untukku.

satu aksara disini lebih berarti dari ratusan posting pada panda yang bergumam maupun langit yang rindang. perasaan mendalam dan konflik jauh lebih bisa aku saring disini. sehingga, bukit bisa menjalankan fungsinya sebagai tempatku bercerita. salah paham dan bicara di belakang tidak akan terjadi bila aku sudah mencaritakan segalanya pada bukit begitu juga sebaliknya. aku sudah lega tanpa menyisakan gundah yang menyesakkan. 

atau dilain kata aku sudah cukup dewasa untuk mencerna. 

kemarin kami ke sana, bukit yang dipenuhi ilalang, menghabiskan sisa senja dengan berbaing menatap langit yang kian jingga. dalam dekap dan peluknya aku merasa nyaman, tak ingin peluk itu menjadi milik orang selain aku. bersamanya aku bahagia, terus dan akan selalu. aku ingin melalui segalanya dengan dia. sajak abadi dalam hati, bukit ku :) 


Tuesday, July 14, 2015

pengecut dalam kotak

begitu banyak yang ingin ditulis
begitu besar ketakutan untuk dihakimi
begitu penat beban di pikiran
begitu sesak lekat terasa di hati

malam merangkak dini hari
di luar badai mengaum-aum
terlalu takut ku tuk buka pintu
ku ingin duduk saja di pojok dekat perapian hingga entah

luka-luka di tangan tak ingin lagi mengecap garam
lihatlah aku-si-pengecut-malam terbunuh perlahan
tertidur adalah hadiah terindah yang sanggup dimiliki
ku kadang lelah dipecundangi paradigma sendiri

mimpi dikala terjaga adalah sakit
terjaga dikala mimpi adalah anugerah
terseok-seok perlahan melemah
diri sendirilah terdakwa bersalah

ingin cepat rasanya keluar dari kotak ini
seperti benih dandelion mekar tertiup angin
pergi ke danau, lembah, dan tumbuh
tanpa khawatir tempat asal dan soal kehidupan selanjutnya

tapi ku hanya bisa terdiam
kembali ke pojok dekat perapian
menunggu badai renda hingga entah
tanpa bisa bermimpi, karena mimpi membunuhku



3:25 | 15 Juli 2015
ilalang

Wednesday, June 3, 2015

(bolehkah berfikir untuk) menjadikan yang hanya satu hingga selamanya

dulu, saya adalah tipikal orang yang menganggap pacaran itu tidak penting berapa lamanya, jalani ya jalani saja. putus? ya putus saja. ada masalah, tidak pernah diselesaikan hingga ada kesepakatan dari kedua belah pihak untuk menyudahi hubungan yang telah dijalani. kadang, putus hanyalah perkara siapa duluan yang menyerah akan hubungan yang dijalani. hingga nenek saya saja yang selalu jadi tempat saya curhat tentang orang yang dekat dengan saya sering tertukar menyebutkan nama laki-laki yang jadi pacar saya saking seringnya berganti dari satu nama ke nama yang lainnya. yang lucunya selalu berawalan huruf A.

hal itu tidak berarti saya tidak pernah serius dalam berpacaran. tapi saya adalah orang yang memilih untuk memiliki zona nyaman untuk berpulang. dimana saya bisa mengekspresikan segala hal yang mungkin tidak bisa saya tunjukan pada semua orang. kasih sayang saya, kelemahan saya, san saya yang benar-benar saya. menyoal tipe saya hanya berharap akan laki-laki yang dapat membuat saya tertawa. saya yakin semua laki-laki itu baik, sebegundal apapun pasti punya sisi baik, sehingga baik itu relatif. tapi yang bisa membuat saya tertawa itu hanya segelintir. dapat berbagi earphone dan bercerita tentang kegemaran masing-masing (yang dalam hal ini adalah menyoal seni) adalah nilai plusnya. memangnya ada yang lebih menyenangkan dari memiliki pasangan yang juga dapat menjadi teman hidup? :)

saya sendiri sadar, saya tidak secantik dian sastro atau chelsea islan. dan manusia paling tampan itu nabi yusuf dan alm.ayah saya di urutan kedua. maka fisik tidaklah pernah jadi hal yang saya prioritaskan untuk mencari pasangan. raga bisa berubah, sifat tidak.

kemarin, saya bermimpi, dan lewat mimpi itu saya belajar. saya sungguh bersyukur mimpi itu datang di awal. mimpi yang meyakinkan saya bahwa orang yang tepat bukan menyoal watu pdkt yang lama. namun ada sesuatu yang mengikat sejak awal : keyakinan. dan keyakinan itu yang harus saya jaga. saya (atau kami) hadapi di masa-masa yang akan datang. keyakinan untuk menjadikan yang hanya satu hingga selamanya. cara berfikir jalani-dan-putus-saja sudah tidak akan berlaku lagi mulai saat ini. saya terlalu lelah utnuk kembali terombang-ambing di lautan luas. saya ingin terus mengalir di sungai yang tenang ini bersama bukit. hingga sampai ke air terjun yang sama dan mengalir lagi di sungai tenang yang lain. hingga kita berdua sampai di lautan luas milik kami berdua. saya tidak akan bermain-main lagi. 

jika segelintir orang berfikir "ngapain serius-serius? masih muda ini" saya berasumsi, mereka belum menemukan orang yang tepat. saya? sudah. maka saya tidak lagi berfikir seperti itu. terlebih bukit juga berkata dia pun merasakan hal yang sama. maka keyakinan itu yang harus kami jaga hingga nanti. hingga selamanya. 

jodoh memang di tangan Yang Maha Esa, tapi saya (atau kami) akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga keyakinan itu hingga kapanpun. sehingga jika terjadi gelombang dasyat, kami akan kembali pada keyakinan itu, yang akan menguatkan kami kembali pada arus tenang di sungai yang panjang ini. saya selalu mengucap syukur dalam setiap doa Allah SWT telah mempertemukan saya dengan bukit. saya akan menjaga hati dan diri saya untuknya karena kita terpisah jarak. tapi saya yakin, jarak bukanlah masalah karena ada hati yang selalu mendekatkan kami.

maka, bolehkan saya berfikir untuk menjadikan bukit hanya satu untuk selamanya?
karena saya sudah yakin. karena saya sudah menemukan yang paling tepat untuk saya sekarang dan selamanya.


Tuesday, June 2, 2015

bukit dan ilalang

harapan menghampar diatas ladang ilalang. biar saja hilang yang ada di belakang. aku menantang kepada tuan, dapatkah rutinitas ini menjadi sebuah kontinuitas yang berarti? atau dibiarkan berlarut sehingga kelamaan menjadi hambar? aku bukanlah orang yang senang dihempas gelombang dan mengikuti arus. rakus menerjang alang demi cahaya terang, memberi arti pada setiap hari yang dilalui. agar berwarna hari bukan sekedar terkena serbuk pelangi. maka apakah tuan memiliki jawabannya? sebelum hilang diterjang elang. tanya yang mungkin tak datang lain waktu. bilamanakan tuan? 

aku datang bukan menyimpang. dari tatap pertama sudah sebuah pertanda. aku pernah dihempas ombak hingga tenggelam dalam kelam. sendiri dalam kepiluan. namun rasa itu telah hilang terhapus seseorang dalam ilalang, yang aku jumpa tanpa wacana. semua berjalan begitu manis, nona. ilalang tidak mungkin menghempaskanku kembali dalam ombak dan membiarkan aku tenggelam. aku ada untukmu ilalang. dalam selimut kabut aku berharap untukmu, tidak mengharap lebih selain menjadi hangat dan cahaya untuk gelap dan dingin, berdua menjadi serasi dan begitu nyaman untuk kita, gunung dan kabut. bukit dan ilalang. tak berdaya mungkin aku bukan hasrat nona untuk berpijak dan melawan angin bersama, aku hanya sebuah bukit bukan gunung yang kau cari, aku mungkin hanya bukit tandus bukan lembah segar tempat rusa berlari. masih inginkah tumbuh meski hanya sepucuk di bukit ini? 

dari dasar jurang aku menerawang. bukan mimpi aku bisa dibawa terbang. cahaya dan hangat yang kau beri sudah lebih dari apa yang menahun dinanti. ketika patah arah di tengah padang ilalang. coba tebak hati siapa yang berhasil dibawa pergi hanya dengan diselimuti rasa nyaman bercanda diatas bukit dan mendengarkan senandung alam? bukan puncak gunung yang sulit didaki dan mungkin dijalan bisa mati. bukan jua keagungan yang aku tuju, tuan. tapi dengan semesta sederhana yang kau bawa untukku, rasanya aku tidak perlu lagi bertanya pada hatiku kemana aku akan pergi. karena di bukit walau dengan ilalang yang luas, bersamamu tuan, aku tidak lagi tersesat.

tanamkan akarmu pada tanahku ini supaya bisa menemaniku diterjang angin dikala hujan deras dan akan kuhidupi kau dengan organik yang hidup padaku akan aku lindungi kau dari tajamnya sinar matahari dengan kemampuanku untuk menumbuhkan pepohonan yang rindang. akan aku pegang erat supaya kamu tidak putus dari akarnya.

kicau merdu paraumu.. puisi tengah malam mengaburkan ingar bingar menjadi temaram. sesungguhnya aku ingin melakukan hal yang sama. tapi aku terbujur kaku. membeku di raga pemalu. biar aku katakan dengan seksama dan penuh raga jiwa. aku ingin kita bersama hingga nirwana. malam itu aku menjadi bukit, kamu menjadi ilalang. elok gemulai rupa mu, indah sikapnya. presensimu lembut, terang damaikan jiwa. namun aku hanya tanah. bukan lembah yang ilalang harap. entah organik apa yang kau cari.

tapi aku ingin bersamamu. mengikat akarmu, memberimu semesta untuk hidup. temani aku saat hujan. panas. dan angin malam. aku tidak bercanda



maukah kau jadi ilalangku?




menit pertama untuk selamanya

 
kita dipertemukan oleh hati yang sama-sama resah. dari kamu yang merantau ke kota kemarau. dan aku yang ditinggal hati dibiarkan tunggal. keluh akan peluh yang selalu menghantui raga dan jiwa. kita adalah manusia-manusia tanpa rumah berpulang untuk sekedar merebah lelah. 

kita dipersatukan oleh nada. waktu dan irama ketika bersenandung bersama. malam dimana aku baru menyadari, hal yang aku butuhkan segalanya terdapat pada kesederhanaan canda dan kelembutan sikapmu. aku yang selama ini tangguh bagai batu, ternyata rapuh di hitungan kesepuluh. ketika hangat senyummu dan damai parasmu menghanyutkan segala keraguanku. aku jatuh cinta, pada menit pertama. 

kepada kamu wahai rusuk, aku akan menggenapkan tulangmu yang hilang. dekaplah aku hingga nirwana. sehingga bahagia akan selalu menjadi rumah untuk berpulang. demi serpihan aksara yang kau susun penuh makna, dan kata yang yang menjadi rima. kepadamu selamanya, aku jatuh cinta.

sepucuk senyum dari individu yang (terus) berevolusi

hallo, perkenalkan, saya ed. saya adalah individu yang baru. hal ini mungkin bisa jadi penjelasan singkat terhadap apa yang telah terjadi pada saya selama dua puluh tahun terakhir. tapi, memangnya siapa yang tidak? betul?

saya adalah anak tunggal dari satu bersaudara. saya lahir dari rahim seorang wanita tercantik di dunia, paling cerdas, paling bijaksana. lahir dengan merepotkan karena saya lahir jam 12 tengah malam ketika bidan sedang tidur di rumahnya.

tumbuh dan besar dengan kegemaran akan menggambar. lalu pada jenjang smp mulai suka membaca buku. kemudian membuat blog perdana dengan pembawaan ala raditya dika. ketika saya beranjak pada masa remaja, saya suka membaca novel dan kenal dengan dunia sastra (walaupun bukan sastra berat). lalu saya membuat blog dengan pembawaan yang lebih drama, lebih sensitif, karena masa-masa itu adalah masa dimana saya mengalami banyak konflik percintaan. 

sedikit tentang percintaan. satu blog saya bisa berisi tentang empat-sampai-lima nama laki-laki yang berbeda (dan blog saya tidak cuma satu, HAHA!). nama mereka disamarkan seperti : langit, april, cumi, kumis, dsb. saya adalah tipe orang yang sangat perasa, jadi setiap ada kejadian tentang mereka, pasti saya akan menuliskannya di blog (sebagaimana yang selalu saya lakukan sejak SMP). semua berisi tentang kesenangan jatuh cinta dan berakhir karena cerita saya dengan lelaki-lelaki itu kandas.

tapi, seperti yang saya sudah singgung di awal, saya sekarang adalah individu baru. 

saya tidak bilang bahwa saya tidak akan merasa gundah dan mengeluhkannya di blog. tapi kini saya merasa lebih objektif memandang tentang perkara yang terjadi di hidup saya. saya sudah mulai bisa meminimalisir kadar drama dalam hidup saya. bukan lagi lautan dengan ombak yang tinggi, namun sungai dengan arus yang tenang.

oh, dan saya juga mau memperkenalkan bukit. bila suatu saat muncul nama ini, saya sedang membicarakan tentang seseorang yang semoga akan selalu menjadi tempat saya berpulang sejauh apapun saya melangkah. begitu juga sebaliknya. 

dan satu lagi, disini saya bertransformasi.
kita lakukan sekali lagi ya...

halo, saya ilalang
dan ini adalah catatan, pikiran, dan sedikit diari visual saya.
salam kenal :)