pernahkah kamu ingin menangis ketika pekerjaan yang benar-benar kamu cintai, kamu tekuni, kamu sudah anggap jadi keseharian kamu, dan kamu dari dulu sudah memimpikannya ternyata tidak mencintaimu balik? ternnyata tidak dapat kau lakukan dengan baik? ternyata tidak dapat menghidupimu? dan yang selama ini kamu makan hanyalah idealisme dan motivasi kosong.
aku sedang mengalaminya.
sudah 3 bulan lepas dari pekerjaan amanku di sebuah studio desain. awalnya aku semangat sekali karna sudah mulai tumbuh kecambah2 harapan bahwa aku bisa survive mendapatkan project2 yang akan memenuhi kebutuhanku sehari-hari (dan menabung). tapi di tengah jalan, kenapa semuanya menjadi semakin berat. revisi tak kunjung datang, saldo menipis, impian untuk menikah dan punya rumahpun semakin jauh. aku jadi merasa bahwa aku tidak punya daya saing berdasarkan kemampuan atau koneksi yang cukup luas untuk menjaring peroject-project yang mungkin bisa aku kerjakan.
aku ada di lingkungan teman-teman yang produktif. partner di kantor pertamaku sungguh pintar, selain pintar dia juga kuat, sehingga dia adalah sosok yang sempurna untuk pekerjaan bernama "pekerja lepas" ini. klien mencarinya karna kemampuannya dan orang-orangpun merekomendasikan dia. karna dia memang hebat, dia keren, aku sempat iri padanya (in a good way).
sahabatku juga sedang mengejar mimpinya jadi "teteh2 ahensi galak" tapi tidak galak, malah loveable, disayangi kawan-kawan di manapun tempatnya bekerja. menapaki tangga demi tangga karier yang ia dambakan walau diperjalanannya aku tau sangat tidak mudah. tapi dia juga pintar, dia sangat mendalami yang dia kerjakan. daya jual atas kemampuan yang dia punyapun tinggi sehingga tidak usah dilamar kerja, banyak pesan di linkedin-nya menawarkan pekerjaan dari kantor-kantor yang bagus pula. aku salut pada kegigihannya, walau menyerah tinggal satu langkah kebelakang, dia tidak pernah mundur.
satu lagi sahabatku yang menekuni apa yang ia sukai, tipografi. dia selalu menjadi dirinya, tapi apa yang dia tekuni semakin jago. bukannya malah makin sombong, dia malah tetap menjadi dirinya, selalu merendah. makin lama rasanya semakin jauh sama dia secara skill, referensi, taste. aku makin minder atas apapun yang aku buat. dia pasti bisa buat yang lebih keren...
sedangkan aku? aku bisa apa? semua yang ku tahu hanya sebatas pesisir pantai, bukan palung laut. dan bisa-bisanya aku memutuskan untuk freelance sedangkan di tempat kerjapun aku bukan desainmer yang bersinar. hanya sekedar.
pernah terlintas di pikiranku untuk menyerah dan jadi ibu rumah tangga saja, toh jadi ibu rumah tangga pun susah, mungkin aku memang tidak berbakat jadi desainer. belakangan aku juga belajar masak dan jahit, kalau tidak laku jadi desainer apa aku jadi penjahit saja. memikirkannya lagi membuatku ingin menangis lagi, tapi aku benar-benar cinta mendesain, tapi aku tidak cukup baik untuk mendesain, desain tidak mencintaiku balik.