Pages

Tuesday, July 11, 2017

turbulensi rasa

kapan aku bisa berhenti menulis tentang kamu? aku tahu aku akan sakit, sakit sesakit-sakitnya diriku jika aku tahu hatimu sudah berpindah. rumah kita tak lagi sama. mimpi kita tidak lagi satu kata. aku bukanlah orang yang kamu inginkan. aku sadar akan hal itu dan tolong tidak usah diperjelas dengan mengatakannya kepadaku.

kenapa? kenapa kamu masih disini? kenapa kamu masih meminta setitik hidupku untuk selalu hadir untukmu, padahal, kamu tidak bisa mengabulkan hal tersederhana yang aku paling butuhkan. bukankah ini tidak adil? sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku? apa kamu tidak mau kehilangan satu-satunya orang yang menyukai kamu apa adanya?

tapi, bukit, bukankah ini sama saja kamu menyakiti ku dengan sadar? karena kamu tau kamu tidak menginginkanku lagi tapi kamu masih memintaku ada ketika kamu tidak punya siapa-siapa yang dapat mengerti keadaanmu seutuhnya? lalu aku ini kau anggap sama saja seperti tissue, yang bisa menyeka air matamu lalu kau buang ketika kamu sudah kembali tersenyum?

bukit, tolong pikirkan dan pertimbangkan segala yang kamu lakukan kepadaku, yang telah kita lalui, yang juga kamu tinggalkan. tidak mudah bagiku untuk melupakannya. jika kamu masih hadir namun tidak memiliki rasa yang sama denganku lagi. untuk apa kamu tetap disini. aku tidak bisa hanya menjadi temanmu. itu menyakitkan. apalagi melihatmu dengan orang lain.

bukit, tidak kah kamu dapat memutuskan?
haruskah aku tetap ada di hidupmu atau tidak...
tanpa harus menyakitiku?

Monday, July 3, 2017

forever fall

terlalu sakit hati ini sehingga aku hanya dapat menyebut namamu dalam doa, bahkan sama pentingnya dengan mendoakan kedua orang tuaku. aku berdoa dalam perihnya pengharapan yang tak berbalas, semoga kamu selalu diberi kebahagiaan. dan jika dengan adanya aku, kamu tidak bahagia, aku meminta pada Tuhan agar menjauhkan aku sejauh-jauhnya darimu. namun tidak terbersit sedikitpun di benakmu untuk menjaga perasaanku. mengabulkan permintaan tersederhanaku.


aku tidak pernah bisa benar-benar tidak peduli padamu walau aku bilang aku tidak lagi peduli. aku harap kamu lebih menyadari tindakanku daripada ucapanku. tapi kamu begitu buta untuk melihat hal itu. waktu-waktu dan perasaan aku habiskan hanya agar setidaknya kamu yakin bahwa aku selalu ada untukmu... bahwa aku adalah orang yang peduli padamu bagaimapun kamu. dan jika kamu yakin ada yang lebih mengerti kamu di luar sana, segera lah menikahinya, agar perkara hatiku selesai...

kamu ingin foto kimong? aku beri. kamu masih terjaga di sepertiga malam dan menyapaku? aku balas. aku tidak minta yang macam2 kepadamu. tapi sepertinya itu permintaan yang sangat berat untuk kamu lakukan. lebih berat daripada sekedar "selalu ada untukmu.". 

kau ingin kehidupan yang normal? ya selamat kamu mendapatkannya sekarang. ternyata selama ini bukan kamu yang aneh, tapi aku yang aneh. sebenarnya di usiamu semua yang kamu lakukan adalah hal yang wajar, aku saja yang kesepian. ketika kamu milikku, kamu adalah teman, pacar, guru, adik, anak kecil, partner, dan segalanya untukku. maka saat kehilanganmu, aku kehilangan semuanya. tidak ada yang bisa menggantikan sebagaimana pas-nya kamu denganku. tapi lagi-lagi, ironis, aku bukanlah yang kamu inginkan.

aku bagai tertimbun di lubang harapan yang aku gali sendiri. realitanya, kamu tidak akan datang menolongku... sedalam apapun aku terjatuh...

untukmu.





Ilalang
3 Juli 2017
bandung |  23.00