kapan aku bisa berhenti menulis tentang kamu? aku tahu aku akan sakit, sakit sesakit-sakitnya diriku jika aku tahu hatimu sudah berpindah. rumah kita tak lagi sama. mimpi kita tidak lagi satu kata. aku bukanlah orang yang kamu inginkan. aku sadar akan hal itu dan tolong tidak usah diperjelas dengan mengatakannya kepadaku.
kenapa? kenapa kamu masih disini? kenapa kamu masih meminta setitik hidupku untuk selalu hadir untukmu, padahal, kamu tidak bisa mengabulkan hal tersederhana yang aku paling butuhkan. bukankah ini tidak adil? sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku? apa kamu tidak mau kehilangan satu-satunya orang yang menyukai kamu apa adanya?
tapi, bukit, bukankah ini sama saja kamu menyakiti ku dengan sadar? karena kamu tau kamu tidak menginginkanku lagi tapi kamu masih memintaku ada ketika kamu tidak punya siapa-siapa yang dapat mengerti keadaanmu seutuhnya? lalu aku ini kau anggap sama saja seperti tissue, yang bisa menyeka air matamu lalu kau buang ketika kamu sudah kembali tersenyum?
bukit, tolong pikirkan dan pertimbangkan segala yang kamu lakukan kepadaku, yang telah kita lalui, yang juga kamu tinggalkan. tidak mudah bagiku untuk melupakannya. jika kamu masih hadir namun tidak memiliki rasa yang sama denganku lagi. untuk apa kamu tetap disini. aku tidak bisa hanya menjadi temanmu. itu menyakitkan. apalagi melihatmu dengan orang lain.
bukit, tidak kah kamu dapat memutuskan?
haruskah aku tetap ada di hidupmu atau tidak...
tanpa harus menyakitiku?
No comments:
Post a Comment