Tadi aku abis nonton Ali & Ratu Ratu Queens di Netflix. In a nutshell cerita tentang Ali yang nyusulin ibunya ke New York setelah Ibunya ninggalin keluarganya untuk pursue her dream become a singer in New York. Yang pada akhirnya juga tidak tercapai dan berakhir dengan menikah dan berkeluarga lagi di sana.
Pursue your dream, huh? I did. I did pursue my dreams, but nobody told me that this will be this hard. Semua orang ingin ada di titik sukses, semua orang ingin ada di titik bisa ngebuktiin bahwa orang-orang salah menilai dirinya, semua orang ingin dilihat atas apa yang sudah dia hasilkan. Aku sekarang sudah punya studio sendiri. Persis seperti apa yang diidam-idamkan setiap desainer. Punya studio sendiri yang keren dan tidak sepi klien. In a humble way I’d say, I did. Mimpi, mimpi, mimpi. Setelah mimpi itu tercapai lalu apa. Buatku rasanya aku bahkan belum mencapai standar diriku sendiri sebagai desainer.
Walau aku sudah punya studio, apa aku merasa sukses? Did I “pursued” my dream. Karna sampai hari ini menyerah dan bertahan ada sedekat kilut dengan nadi. Aku merasa tidak pantas ada di sini untuk merasakan “capaian tertinggi” ini. Aku masih jauh dari kata sempurna. Masih banyak orang lain yang lebih capable dan bisa ngejalanin studio ini. Tapi ketika aku berfikir seperti itu, sudah telalu banyak juga orang yang menaruh harapan sama aku. Baik konteksnya karyawan, partner bisnis, maupun klien, semuanya berharap dan menunggu apa lagi yang bisa aku hasilkan.
Sementara, aku sibuk, aku lupa bagaimana caranya berfikir dengan tenang. Refleksi diri mengenai apa yang bisa diperbaiki dari diri ini. Bisa belajar hal baru apalagi. Bagaimana untuk mulai belajar lagi. Apa sih yang bisa bikin aku senang, bikin aku tenang, apa hobi aku, apa yang membuat aku merasa hidup, apa yang bikin aku ngerasa a whole of cake. Aku lupa rasanya menjadi "aku".
Banyak yang sudak menepuk jidat dan lelah menceramahi aku tentang "nggak kok kamu bagus" tapi intonasi bicaranya tidak seperti mengakui sesuatu, hanya seperti menyemangati bara tanpa api yang hampir padam. Seperti seakan berucap "tetaplah hidup walau tidak berguna". Sedangkan buatku, buat apa kalau tidak berguna tetap hidup, hanya akan menyusahkan banyak orang saja. Itu yang aku rasakan perlahan-lahan. Jika di dunia ini aku digantikan dengan seseorang yang lebih baik dariku, atau mereka dipertemukan lagi dengan orang lain yang lebih sepmurna dari aku, pasti akupun hilang sudah karna tidak ada satu hal spesifik that i'm very good at.