aku menyukai sepi. tapi aku tidak suka merasa kesepian. dari dulu aku selalu mengeluh akan ketakutanku akan kesepian; masa-masa dimana aku tidak memiliki sesorang untuk berbagi hidup. bersama bukit, keramaian menjadi sepi, hanya mejadi aku dan dia, tak ada yang bisa mengalihkan perhatianku padanya, mengalihkan pandanganku darinya. aku tak mampu, lagi tak ingin.
pada suatu ketika dimana kami mencoba memberikan ruang, aku mencoba sedikit menrenggang dari pelukannya, melihat ada apa saja di sekitar, ada siapa saja di sekitar. lalu ku coba mengintip, banyak sekali orang, banyak, ramai. aku tidak suka keramaian. ramai yang kurasa brbeda dengan hanya dengan berbicara dengan bukit seharian. aku suka ramai yang hatiku rasa bersama bukit. namun, aku takut keramaian. semua orang-orang ini menyapaku, menanyaiku, hal-hal yang tak ingin aku bagi kecuali dengan bukit...
bukit....?
dimana kamu?
bukit....?
oh ya, bukit masih disini membiarkan aku menatap punggungnya. dia tidak pergi, dia masih disini. tapi aku tak bisa selalu memintanya untuk hadir. karena dia menyukai sepi, sepertiku. namun sekarang, semenjak bukit mengisi hariku, sepi dan kesepian tak ada bedanya. aku tidak menyukai keduanya. aku selalu membutuhkan bukit... iya, bukit ada di sini. tidak kemana-mana. namun aku hanya bisa memeluknya dari belakang, tanpa bisa kulihat ramai di matanya dan hangat senyumnya.
punggung yang dingin, yang selalu ingin kupeluk erat agar hangat. oh bukit, semoga engkau lekas sembuh. kepada doa-doa yang terucap, harapan-harpan yang tersurat, dan bunga-bunga abadi dalam hati.... semoga kita dapat disegerakan kepada jalan yang lebih direstui Yang Maha Kuasa. karena ku yakin kesepian itu tak akan lagi menemukan maknanya ketika aku, kamu, yakin betul bahwa ada aku, ada kamu, menunggu di depan pintu dengan cincin kembar melingkar di jari manis.
dan hidup bahagia selamanya adalah misi selanjutnya.
ilalang,
bandung, 29 september 2016 | 00:37
diiringi album ontario gothic - foxes in fiction