Pages

Monday, August 9, 2021

perihal keinginan

walau aku bukan termasuk orang yang kesulitan secara finansial, biasa saja, membeli barang baru adalah sebuah kemewahan untuk ku. bukan karna aku tidak mampu, hanya saja seringnya aku malas untuk membeli barang karna selalu teringat semasa kecil jika aku menginginkan sebuah barang yang harganya lumayan mahal, aku pasti ditanyai dulu "kenapa kamu berhak untuk mendapatkannya? sebutkan 3 hal baik yang sudah kamu lakukan sehingga kamu pantas menerimanya" dan karena aku bukan anak baik atau pintar aku selalu kehabisan ide di alasan kedua. termasuk sesederhana baju, waktu jaman-jamannya distro berjaya di bandung. aku hanya punya baju dari distro milik salah satu keluargaku saja, itupun barang reject yang ada defectnya sedikit. 

aku ingat pertama kali aku membeli jaket dari distro badger, adalah jaket yang diberikan karena aku ranking 10 besar waktu smp. aku meminta ingin dibelikan jaket dari distro yang persis dengan bassist rosemary yang pada saat itu sangat aku sukai. kemudian, aku ingat aku menabung untuk membeli topi juga di distro itu. pada dasarnya, lagi, aku bukan anak yang baik atau pintar untuk dihadiahi barang-barang yang aku inginkan. aku juga terlalu malas untuk berbuat baik atau belajar lebih keras untuk mendapatkan sesuatu. makanya, sejak smp aku tidak pernah lagi meminta apa-apa, aku terima saja apa yang diberikan. baju dari matahari, tas yang sesuai kebutuhan saja (bukan branded seperti teman-teman sesekolah), sepatu converse basic yang paling bisa terjangkau saja, sepatu vans kw yang aku pakai sampai rusak walau nggak main skate. 

tanpa sadar, aku sudah menekan jauh keinginanku untuk membeli (menginginkan) barang baru. pernah sekali aku mencoba membeli barang yang sangat hype pada masanya, billie eilish x takashi murakami x uniqlo, aku sampai bela-belain jastip pada temanku. aku suka billie eilish, karna selama di jakarta salah satu playlist yang aku ulang-ulang ya dia. tapi begitu barangnya sampai di rumahku, rasanya biasa saja. rasanya "hype" atau "in trend" sama sekali bukan gayaku. tapi berbeda rasanya ketika aku mendapatkan laptop macbook 2011 (saat itu tahun 2017) yang aku dapatkan di olx dengan harga 7.2jt tanpa box, hanya tas asus, tapi senangnya minta ampun. kemudian lomo fisheye second dari toko analog seharga 700rb, sampe aku post di instagram saking senangnya mendapatkan kamera yang aku inginkan sejak 2008 itu, dimana semua teman tumblr ku memilikinya, aku hanya bisa terkagum-kagum benda yang sering berseliweran di tumblr dan google aku lihat secara langsung. 

dan kemarin aku baru saja membeli sebuah laptop baru keluaran 2017 (sekarang 2021), bekas seoarang teman, dikirim dari jakarta aku senang sekali. kini bukan karna dia datang dengan box atau ini adalah benda yang aku inginkan, melainkan perasaan senang karna pada akhirnya, aku menginginkan sesuatu lagi karena kebutuhan dan aku menyanggupi diri untuk merasa perlu. biasanya aku selalu "nanti aja belum perlu, nanti aja mungkin harganya bisa turun beberapa tahun lagi, nanti aja, nanti aja" sebuah kebiasaan buah dari kemalasanku mencari alasan kenapa aku berhak mendapatkannya.

alih-alih menjadi orang sederhana yang tidak punya banyak keinginan, aku malah jadi cemas karena aku tidak punya gairah atau ketertarikan kepada sebuah benda untuk dimiliki untuk pada akhirnya merasa senang karena memilikinya. aku ingat, dulu bukit juga ketika stress inginnya belanja (bukan hanya karna dia tidak perlu cemas soal finansial) tapi juga dia tau apa yang dia inginkan. sedangkan aku? hanya hidup seperti cangkang kosong. 

pacarku yang sekarang juga super konsumtif. banyak sekai whistlist tokopedia dan real lifenya. walau dia juga punya uang untuk membelinya, aku sering iri. bukan iri karna dia bisa membelinya, tapi aku iri karna begitu banyak yang dia inginkan, dia percayakan dalah hati bahwa suatu saat dia akan memilikinya, dan terjadi! aku tidak pernah lagi memanifestokan keinginanku, karna perlahan-lahan aku jadi tidak punya. aku hidup tanpa menginginkan apa-apa. aku hanya bernafas. aku tidak punya brand atau benda spesifik yang aku inginkan. aku hanya membeli apa yang aku perlukan untuk, ya, bertahan hidup. aku selalu membeli sepatu yang sama setelah yang sebelumnya rusak, dalam setahun paling aku hanya membeli 1 items pakaian baru, dan mungkin menjahit beberapa celana bukan karna ingin, tapi memang karna ukuranku semakin melebar.

apa sebagai manusia, aku perlahan kehilangan "rasa"?

Sunday, July 18, 2021

Ini akan jadi postingan yang sangat cepat. aku janji tidak akan membuatnya bertele-tele. 

Bukit, selamat ya, akhirnya kamu telah menemukan dan berlayar bersama bahagia. Senyum yang merekah dan pipi yang merona. Maaf aku melewatkan beritanya karena kamu aku mute di semua platform sosial media walaupun aku memfollow kamu. terkadang, ah tidak, sering... aku merasa iri, sangat iri... 

Ah bicara apa aku ini. maaf ya harusnya ini menjadi sebuah ucapan tulus untuk jenjang kehidupanmu yang baru. Semoga kamu selalu dilimpahkan kebahagiaan, rezeki, dan kesehatan, bagimu dan keluarga kecilmu yang dimulai dari hari kemarin. 

Semoga sudah tidak ada lagi monster hitam pekat itu, tidak ada lagi antimo 10 buah untuk mengantarmu tidur, tidak ada lagi hp yang perlu dibanting, tidak perlu lagi ada keraguan terhadap dirimu lagi. Semoga bahagia! Semoga semesta mengiringi langkah kalian berdua dengan gembira hingga akhir hayat :)


Ilalang,

1 hari setelah pernikahanmu, 18 Juli 2021

Sunday, June 27, 2021

pursue your dream (2)

Tadi aku abis nonton Ali & Ratu Ratu Queens di Netflix. In a nutshell cerita tentang Ali yang nyusulin ibunya ke New York setelah Ibunya ninggalin keluarganya untuk pursue her dream become a singer in New York. Yang pada akhirnya juga tidak tercapai dan berakhir dengan menikah dan berkeluarga lagi di sana. 

Pursue your dream, huh? I did. I did pursue my dreams, but nobody told me that this will be this hard. Semua orang ingin ada di titik sukses, semua orang ingin ada di titik bisa ngebuktiin bahwa orang-orang salah menilai dirinya, semua orang ingin dilihat atas apa yang sudah dia hasilkan. Aku sekarang sudah punya studio sendiri. Persis seperti apa yang diidam-idamkan setiap desainer. Punya studio sendiri yang keren dan tidak sepi klien. In a humble way I’d say, I did. Mimpi, mimpi, mimpi. Setelah mimpi itu tercapai lalu apa. Buatku rasanya aku bahkan belum mencapai standar diriku sendiri sebagai desainer. 

Walau aku sudah punya studio, apa aku merasa sukses? Did I “pursued” my dream. Karna sampai hari ini menyerah dan bertahan ada sedekat kilut dengan nadi. Aku merasa tidak pantas ada di sini untuk merasakan “capaian tertinggi” ini. Aku masih jauh dari kata sempurna. Masih banyak orang lain yang lebih capable dan bisa ngejalanin studio ini. Tapi ketika aku berfikir seperti itu, sudah telalu banyak juga orang yang menaruh harapan sama aku. Baik konteksnya karyawan, partner bisnis, maupun klien, semuanya berharap dan menunggu apa lagi yang bisa aku hasilkan.

Sementara, aku sibuk, aku lupa bagaimana caranya berfikir dengan tenang. Refleksi diri mengenai apa yang bisa diperbaiki dari diri ini. Bisa belajar hal baru apalagi. Bagaimana untuk mulai belajar lagi. Apa sih yang bisa bikin aku senang, bikin aku tenang, apa hobi aku, apa yang membuat aku merasa hidup, apa yang bikin aku ngerasa a whole of cake. Aku lupa rasanya menjadi "aku".

Banyak yang sudak menepuk jidat dan lelah menceramahi aku tentang "nggak kok kamu bagus" tapi intonasi bicaranya tidak seperti mengakui sesuatu, hanya seperti menyemangati bara tanpa api yang hampir padam. Seperti seakan berucap "tetaplah hidup walau tidak berguna". Sedangkan buatku, buat apa kalau tidak berguna tetap hidup, hanya akan menyusahkan banyak orang saja. Itu yang aku rasakan perlahan-lahan. Jika di dunia ini aku digantikan dengan seseorang yang lebih baik dariku, atau mereka dipertemukan lagi dengan orang lain yang lebih sepmurna dari aku, pasti akupun hilang sudah karna tidak ada satu hal spesifik that i'm very good at.