Pages

Monday, December 28, 2015

kemana kita akan pulang, itulah tujuan kita hidup di dunia :)

saya tumbuh dan besar di keluarga yang tidak terlalu religius. (Alm.) kakek saya adalah seorang dosen psikologi yang berfikir sangat logis dan tidak pernah shalat semenjak usianya 25, namun sebelum meninggal beliau masih sempat bertaubat dan shalat juga sahum walau keadaannya sedang sakit. nenek saya baru berhijab setelah 50 tahun hidup di dunia. saya tidak pernah dimarahi ayah untuk shalat dan disuruh berhijab karena ayah saya meninggal sebelum saya lahir. tapi di balik semua itu, alhamdulillah... ibu masih sadar akan kebutuhan religius untuk ditanamkan sejak dini. 

saya dimasukan ke TPA ketika SD kelas 1 namun saya termasuk yang lambat dan hingga kelas 2 belum lulus iqra. saya kemudian melanjutkan TPA di dekat rumah saya ketika kelas 3-4 namun tetap sama. saya sangat lambat dalam belajar iqra, menghafal doa, bahkan bacaan shalat. di rumah pun karena ibu sibuk dan keadaan rumah (berisi kakek, nenek, om, dan ibu) yang tidak terlalu keras dalam menyuruh beribadah, saya pun akhirnya menganggap shalat itu kalau mau saja dan ada acara-acara besar seperti Idul Adha atau Idul Fitri. ibu walau sibuk selalu sempat bertanya "sudah shalat?”, kadang saya menjawabnya jujur ketika belum, namun lebih seringnya menjawab "sudah" agar kegiatan yang saya lakukan tidak terputus. kemudian ibu kembali sibuk. ibu juga sering meniggalkan saya untuk seminar di luar kota senigga saya lebih tidak terkontrol lagi ibadahnya. 

 selama saya bersekolah di SMP dan SMA, saya berhijab. Saya memutuskan berhijab untuk alasan agar saya lebih dapat menjaga diri saya dari perbuatan-perbuatan yang berakhir pada dosa. namun masih sekedar menjalankan perintah untuk menutup aurat, belum sampai kepada memperbaiki ahlak. saat kuliahpun seperti itu, saya masih juga banyak berbuat dosa dan shalat masih bolong-bolong. dulu, jika ada tayangan dakwah atau teman yang berdakwah secara formal di timeline berbagai sosial media, saya selalu mengignore dan mengescrollnya secara cepat.. kenapa? karena saya pikir kalau saya diceramahi, saya akan tau mana yang boleh dan yang tidak, yang seharusnya dan tidak seharusnya. Semuanya bisa membatasi dunia saya yang bebas dan ekspresif jadi tertutup. Saya terus terang saja tidak pernah baik dalam mata pelajaran agama. Nilai tidak pernah lebih besar dari 7,5.

tapi entahlah, Allah sepertinya sayang sekali sama saya dan merindukan saya kembali pada jalan-Nya. 

saya selalu takut akan kematian, banyak sekali teman dan keluarga bahkan berita kematian tentang orang lain bermunculan setiap hari. saya bukan mengkhawatirkan cara kematian seseorang (atau saya pada tepatnya), saya selalu mengkhawatirkan hidup setelah mati. Kehidupan yang lebih abadi. Selama bertahun-tahun hidup dalam melogikakan teori-teori dari buku pelajaran atau bertemu banyak orang dengan cerita dan berbagai pengalamannya bahkan hingga keangkuhannya, saya selalu takut kematian. Saya tidak ingin berakhir abadi di neraka, saya ingin bertemu ayah saya dan semua orang yang saya sayangi kelak di sebaik-baiknya tempat di surga. 

Hati saya selalu tergetar dengan kepala tertunduk setiap mengingat betapa baiknya Allah SWT masih membiarkan saya hidup walau saya jarang sengaja bertemu dengan-Nya dalam shalat. sebagai imbasnya, saya selalu bersedih hati dalam perihal memiliki pacar. Saya tidak pernah luput dari gelisah hati karena ditinggal atau diabaikan oleh orang yang saya sayangi. Hidup saya seperti berat sekali tanpa mereka. padahal saya memiliki satu-satunya yang Maha Penyayang. Tapi dulu saya begitu buta akan hal tersebut. Saya lebih sayang pada sesuatu yang fana, yang tidak selamanya.

Streetart dan dunia maya adalah pengalihan dari diri saya yang menyedihkan saat itu. saya mencoba menjadi “seseorang”, sesuatu yang dapat dilihat dan dipuji banyak orang karena keahlian saya. Hal itu bertahan selama 3 tahun dan telah membawa saya pada popularitas yang dulu pernah saya dambakan, tapi hati saya masih bersedih. Saya selalu bertanya akan makna saya hidup di dunia untuk menjadi berguna bagi orang lain. saya selalu hidup sebagai manusia, karena itu sisi kemanusiaan saya selalu tergugah namun belum juga pada sisi religius makna seorang manusia sebagai hamba Allah SWT. Ketika saya berusaha membangun makna saya bagi orang lain, saya selalu terhambat pada realisasi kegiatan tersebut karena saya lebih mementingkan dunia, mementingkan berapa uang yang bisa saya dapat dari kegiatan itu. keuntungan saya lebih banyak daripada kerugian, sehingga sepertinya susah sekali dapat restu dari Allah SWT karena alasan-alasan saya yang duniawi. Namun sebagai usaha paling kecil yang bisa saya lakukan, saya berusaha selalu jadi teman yang baik bagi teman-teman saya, tempat bercerita maupun berbagi. Saya mengikuti banyak kegiatan mengenal banyak orang agar bisa saling menguntungkan. 

namun hati saya masih selalu tergetar resah jika terbersit tentang Allah SWT dan kematian. Karena hal yang paling pasti dari seorang manusia adalah kematian, kan? 

kemudian, pada suatu hari sekitar sebulan yang lalu, teman saya datang ke rumah untuk saya bantu membuat kebutuhan desainnya. Setelah selesai membuat desain, kami selayaknya perempuan-perempuan lain curhat-curhatan. Saya bercerita tentang keadaan percintaan saya yang sedang ada masalah dengan pacar saya. entah darimana awalnya, dia bercerita tentang kisah Ramayana. tentang pandawa yang baik dan kurawa yang jahat. Namun pada masing-masing dari mereka ada sorang pandawa yang jahat dan kurawa yang baik. Pada intinya saya benar-benar jadi terdiam membisu menghayati, inilah jawaban dari keresahan pertanyaan saya selama hidup di dunia. 

“manusia tidak ada yang sempurna. Setiap orang baik pasti tidak luput dari kejahatan walau secuil, orang jahat pun pasti punya kebaikan walau secuil. Yang bisa kita lakukan adalah selalu memperbaiki diri dan berbaik sangka atas kehendak-Nya. kita selalu mempunyai dua pilihan sederhana, kalau bisa menjadi lebih baik, pilihannya hanya dua. Mau atau tidak? Kematian hanya Allah SWT yang tahu, bisa jadi besok, lusa, atau 50 tahun lagi. jadi sebelum kematian itu menjemput sungguh tidak ada salahnya untuk menjadi lebih baik. dan meninggal dalam keadaan baik”

Setelah itu saya benar-benar seperti terjawab keraguan saya utnuk memulai kembali ke jalan-Nya. keraguan untuk meninggalkan yang buruk dan memulai segala hal baik yang perintahkan, dianjurkan, dan diridhai-Nya dan menjauhan diri dari apa yang dibenci oleh-Nya. Semalaman saya memilikirkan kesimpulan yang saya dapat dari cerita teman saya tadi. Itu bukan pertama kalinya saya mendengar kisah Ramayana dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama Islam. Namun Hidayah selalu datang di waktu dan cara yang tepat. Allah SWT tau saya tidak suka diceramahi dengan dalil dan bahasa arab, maka Beliau menurunkan Hidayahnya agar saya menjadi lebih baik lewat teman yang benar-benar saya respect segala perkataannya dan saya dengarkan dengan baik. lewat Ramayana yang diceritakannya dengan bahasa dia yang sederhana. Lewat keadaan saya yang hampir patah arah selalu hidup dalam gelisah. Lewat dia saya yang dibutuhkan jasa desainnya. Saya berfikir, kalau saya tidak berteman dengannya, kalau saya tidak menjadi desainernya, kalau saat itu dia tidak berkunjung ke rumah saya, kalau saat itu dia tidak bercerita tentang Ramayana, pasti saya masih berada dalam kebingungan dan kegelisahan, bertanya semua pertanyaan yang sebenarnya jawabannya selalu hanya satu “diridhai atau tidak sama Allah SWT?”

maka sejak saat itu saya memutuskan untuk kembai ke jalan-Nya. tidak berharap akan pengakuan dan pujian dari manusia, melainkan hanya mengharap ridha Allah SWT semata. menjalankan segala kegiatan atas dasar menjalankan perintah-Nya. saya tidak lagi menutup diri dengan dakwah yang bisa membuat saya terjaga di jalan-Nya. dimulai dari hal paling sederhana dengan mengganti hijab menjadi yang lebih panjang agar sesuai fungsinya yaitu menutupi aurat berupa bentuk dan lekuk tubuh. saya belajar lagi menghafal bacaan dan doa-doa. saya selalu mengutamakan shalat setiap harinya dan saya selalu berbaik sangka atas kehendak-Nya. 

hidup saya kini lebih tenang, lebih ikhlas, lebih bersyukur, lebih tentram, jauh dari gelisah dan sedih. karena saya memiliki orang-orang baik yang mendukung perubahan saya untuk menjadi lebih baik dan tentunya saya selalu memiliki Allah SWT yang merangkul saya dalam Nur-nya yang meneduhkan hati saya. Yang meyakinkan saya bahwa hidup di duni ini hanya sebentar dan saya tidak lagi takut kematian. 

Saya rindu Allah SWT, Rasulullah SAW dan saya rindu tinggal di Surga :) 
I’ve been live there before i’m alive, then i wish i can come back there peacefully.

Insyaallah... Aamiin 





Ed, 2015

No comments:

Post a Comment