begitu besar ketakutan untuk dihakimi
begitu penat beban di pikiran
begitu sesak lekat terasa di hati
malam merangkak dini hari
di luar badai mengaum-aum
terlalu takut ku tuk buka pintu
ku ingin duduk saja di pojok dekat perapian hingga entah
luka-luka di tangan tak ingin lagi mengecap garam
lihatlah aku-si-pengecut-malam terbunuh perlahan
tertidur adalah hadiah terindah yang sanggup dimiliki
ku kadang lelah dipecundangi paradigma sendiri
mimpi dikala terjaga adalah sakit
terjaga dikala mimpi adalah anugerah
terseok-seok perlahan melemah
diri sendirilah terdakwa bersalah
ingin cepat rasanya keluar dari kotak ini
seperti benih dandelion mekar tertiup angin
pergi ke danau, lembah, dan tumbuh
tanpa khawatir tempat asal dan soal kehidupan selanjutnya
tapi ku hanya bisa terdiam
kembali ke pojok dekat perapian
menunggu badai renda hingga entah
tanpa bisa bermimpi, karena mimpi membunuhku
3:25 | 15 Juli 2015
ilalang
No comments:
Post a Comment