harapan menghampar diatas ladang ilalang. biar saja hilang yang ada di belakang. aku menantang kepada tuan, dapatkah rutinitas ini menjadi sebuah kontinuitas yang berarti? atau dibiarkan berlarut sehingga kelamaan menjadi hambar? aku bukanlah orang yang senang dihempas gelombang dan mengikuti arus. rakus menerjang alang demi cahaya terang, memberi arti pada setiap hari yang dilalui. agar berwarna hari bukan sekedar terkena serbuk pelangi. maka apakah tuan memiliki jawabannya? sebelum hilang diterjang elang. tanya yang mungkin tak datang lain waktu. bilamanakan tuan?
aku datang bukan menyimpang. dari tatap pertama sudah sebuah pertanda. aku pernah dihempas ombak hingga tenggelam dalam kelam. sendiri dalam kepiluan. namun rasa itu telah hilang terhapus seseorang dalam ilalang, yang aku jumpa tanpa wacana. semua berjalan begitu manis, nona. ilalang tidak mungkin menghempaskanku kembali dalam ombak dan membiarkan aku tenggelam. aku ada untukmu ilalang.
dalam selimut kabut aku berharap untukmu, tidak mengharap lebih selain menjadi hangat dan cahaya untuk gelap dan dingin, berdua menjadi serasi dan begitu nyaman untuk kita, gunung dan kabut. bukit dan ilalang. tak berdaya mungkin aku bukan hasrat nona untuk berpijak dan melawan angin bersama, aku hanya sebuah bukit bukan gunung yang kau cari, aku mungkin hanya bukit tandus bukan lembah segar tempat rusa berlari. masih inginkah tumbuh meski hanya sepucuk di bukit ini?
dari dasar jurang aku menerawang. bukan mimpi aku bisa dibawa terbang. cahaya dan hangat yang kau beri sudah lebih dari apa yang menahun dinanti. ketika patah arah di tengah padang ilalang. coba tebak hati siapa yang berhasil dibawa pergi hanya dengan diselimuti rasa nyaman bercanda diatas bukit dan mendengarkan senandung alam? bukan puncak gunung yang sulit didaki dan mungkin dijalan bisa mati. bukan jua keagungan yang aku tuju, tuan. tapi dengan semesta sederhana yang kau bawa untukku, rasanya aku tidak perlu lagi bertanya pada hatiku kemana aku akan pergi. karena di bukit walau dengan ilalang yang luas, bersamamu tuan, aku tidak lagi tersesat.
tanamkan akarmu pada tanahku ini supaya bisa menemaniku diterjang angin dikala hujan deras dan akan kuhidupi kau dengan organik yang hidup padaku akan aku lindungi kau dari tajamnya sinar matahari dengan kemampuanku untuk menumbuhkan pepohonan yang rindang. akan aku pegang erat supaya kamu tidak putus dari akarnya.
kicau merdu paraumu.. puisi tengah malam mengaburkan ingar bingar menjadi temaram. sesungguhnya aku ingin melakukan hal yang sama. tapi aku terbujur kaku. membeku di raga pemalu. biar aku katakan dengan seksama dan penuh raga jiwa. aku ingin kita bersama hingga nirwana. malam itu aku menjadi bukit, kamu menjadi ilalang. elok gemulai rupa mu, indah sikapnya. presensimu lembut, terang damaikan jiwa. namun aku hanya tanah. bukan lembah yang ilalang harap. entah organik apa yang kau cari.
tapi aku ingin bersamamu. mengikat akarmu, memberimu semesta untuk hidup. temani aku saat hujan. panas. dan angin malam. aku tidak bercanda
maukah kau jadi ilalangku?

No comments:
Post a Comment