Ah mungkin kalau saya mengepost foto semacam itu kamu mengira saya ada di kedai kopi hanya untuk mendapatkan stok foto bagus atau biar dibilang hits mainnya ke kedai kopi. namun percayalah kawan, tidak, saya bukan orang yang seperti itu.
kesukaan saya pada kopi bermula dari saya yang hanya memesan Iced Coffee Latte di setiap tempat yang menyajikan kopi karena harganya yang relatif ditengah-tengah, karena dibawahnya ada americano atau espresso, dan diatasnya ada creme brulee, afogato, dan macchiato. dulu saya hanya tau vanilla late, itu juga karena ada dalam sachet dan saya bisa membelinya kapan saja di warung. dulu juga jika saya menulis cerpen, saya hanya bisa membuat tokoh utamanya meminum vanilla late / cafe latte karna hanya itu rasa yang bisa saya deskripsikan dengan jelas. pada suatu hari, saya pergi ke kedai kopi ini bersama Bukit. selagi saya memesan cafe latte, dia memesan kopi bali. dia menawarkan saya untuk mencobanya. dan saya pun walau sedikit enggan (karena tidak pernah minum kopi hitam) mencobanya.
Dan kopi bali itu mengalir di tenggorokan saya seraya mengejek saya yang baru saja merasakan bahwa ternyata kopi lain pun enak, bahkan kopi hitam tanpa gula pun enak. sejak saat itu saya mencoba hampir (namun belum semua) jenis kopi yang ada di menu di setiap tempat, baik kopi hitam atau kopi-kopi fancy nano-nano. ada satu hal yang selalu membuat saya suka kopi. kopi adalah teman berkontemplasi yang sungguh tepat. ngopi itu tidak bisa sekali habis karna kalau langsung habis namanya "haus" bukan "ngopi". saya tidak pernah punya masalah baik itu kopi yang digiling atau disobek, saya tidak pernah memberi standarisasi pada diri saya mesti minum kopi yang seperti apa. namun rasanya setiap saya mencoba kopi yang berbeda ibarat berkenalan dengan teman baru, yang saya akan tahu kapan teman yang mana yang cocok menemani saya saat itu.
bagaikan quality time, coffe-complex-romance, overly attached coffee lover, saya tidak begitu suka dengan keadaan kedai kopi yang ramai, yang ada anak-anak SMA foto-foto sambil ngegosip kenceng-kenceng. atau playlist yang tidak mendukung romantisme saya dengan kopi. walaupun sambil ngopi saya sambil online, kerja, atau baca buku, saya tidak pernah kehilangan rasa kopi itu ketika saya sendirian.
saya juga memiliki cerita dibalik kopi. Kopi membuat saya tetap terjaga ketika menunggunya terlelap. saya banyak sekali menukarkan jam tidur saya untuk menemaninya terlelap, bukan karena ada hal yang saya kerjakan, baik itu tugas maupun kerjaan, saya menemani bukit hingga ada diantara kami yang mengantuk duluan. tapi saya sungguh tidak berkeberatan dengan hal itu, karena pada siang hari kami jarang sekali kontakan dan baru bisa kontakan setelah jam 8 hingga tengah malam, bahkan jika sedang berdebat sampai adzan subuh kita masih terjaga. kopi selalu menemani saya. walaupun kadang jantung saya berdebar kencang ketika bangun tidur karena kebanyakan kafein.
ah pokonya kopi itu spesial mau bagaimanapun cara pengolahannya!apalagi dinikmati di kedai kopi favorit pada jam-jam sepi. huwww <3




kopi kapal hitam tetap favorit
ReplyDeletecoffee should black as hell banget anaknya teh :))
Delete