Padang, 1 Desember 2017
tidak sulit mengingat bagaimana setapak kita bisa saling bersinggungan, bagaimana percakapan itu dimulai, sungguh-sungguh sederhana seperti memang sudah seharusnya kita saling menyambut pintu yang terbuka bagi masing-masing. kita tidak pernah memulainya sebagai sesuatu yang rumit, karena sungguh, demi Tuhan, aku tidak mau membuat kita menjadi begitu. tidak ada puisi; yang katanya bahasa paling jujur setelah tatapan mata, bahkan kamu awalnya hanya menatap masing-masing satu arah lewat display picture line. tidak ada pertanyaan "maukah?", tidak ada tanggal, tidak ada sentuhan, tidak ada kencan. hanya udara; dan gelombang elektromagnetik berupa balon-balon kata dan ratusan jam percakapa telepon membahas kerning, desainer, dan musik emo favorit kita, yang selanjutnya menjadi percakapan soal betapa kita sering kali dikecewakan di masa lalu.
hal itu yang membuat kita takut untuk saling mengikat:
karena kita tahu pedihnya sebuah perpisahan yang akan datang setelahnya.
makah beginilah jika dua orang yang masih sama-sama takut untuk kembali kecewa. namun semakin seringnya kita berbagi cerita dan tawa, aku, ya aku, aku mengucapkan perasaanku yang mulai tumbuh untukmu, namun bukan untuk dijawab atau dibalas. hanya agar kamu tahu bahwa aku nyaman bersamamu, dan kumohon agar kau tidak pergi. kita tidak perlu status apa-apa, tidak perlu janji apa-apa, tidak perlu visi apa-apa, aku hanya ingin kau tinggal untuk menemaniku dan aku akan melakukan hal yang sama untukmu. sebisa mungkin aku akan berusaha untuk jadi berguna untukmu. aku tidak ingin jadi seonggok manusia yang memberatkanmu---kamu, yang sedang sibuk menyelesaikan jenjang pendidikan terakhirmu. itu adalah ikrarku pada diriku sendiri, bukan untukmu, namun juga untukku, agar aku tidak kamu tinggal pergi karena aku menggenggam rutinitasmu, kebebasanmu, juga hal-hal yang masih ingin kamu capai terlalu erat.
tapi, inilah aku, dengan segala kerumitan dan medan tempur di dalam otakku sendiri. sering kali aku bertanya-tanya mengapa aku bisa jadi serumit ini. semakin bertambah usia, lingkaran pertemananku semakin sempit. dan setelah keberangkatan sahabatku mengadu nasib di agensi jakarta dan yang satunya lagi sibuk tugas akhir, aku semakin bingung dengan siapa akan kuhabiskan waktu selagi menunggu kamu yang juga sedang sibuk tugas akhir. sering kali aku hanya bisa menatap langit-langit kamarku, tidak melakukan apapun, memegang handphone menunggu ada notifikasi pesan yang kuharap itu darimu. se-gabut-itu-loh-aku. oh bukan, se-kesepian-itu-loh-aku. aku menjadi anak tunggal seumur hidupku, tidak ada teman; bercanda, berantem, bermain, semenjak aku kecil di dalam rumahku. karna jarak rumah dan sekolahku jauh, jarang sekali ada teman yang bermain ke rumah, menginap, bahkan yang teman yang benar-benar bisa menganggap rumahku sebagai rumah keduanya. begitu pula saat aku berkuliah, lingkaran pertemananku semakin sempit, dan jika dibanding ada teman yang main ke rumah, aku lah yang menghabiskan lebih banyak waktu di kampus utnuk membohongi kesepianku di rumah, sebagai pemegang predikat tunggal sebagai anak.
pernahkah kamu membayangkannya? satu-satunya teman di bangunan bernama rumah, yang dipersempet menjadi kamar, adalah dirimu sendiri; yang sering kali melawan dirimu. dirimu sendiri; yang memunculkan benak tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk dari semua hal, dirimu; yang mencemaskan hampir setiap langkah yang dibuat? aku harap jangan, karena kembali lagi, kamu adalah entitas dengan jalan pikiran paling sederhana yang ku kenal. itu adalah sebuah berkah, kamu patut mensyukurinya. maaf jika aku terkesan berlebihan dan aku harap kamupun tidak akan pernah membaca tulisan ini. hanya akan menambah pikiranmu karena mungkin kamu tidak akan mau membangun masa depan dengan orang serumit ini. yang bahkan disaat ia menulis tulisan ini, sebagian dari dirinya menyuruh untuk berhenti menulis, dan hapus.
aku jadi tidak merasa baik untukmu, untuk siapapun. selama aku takut aku akan membebani mu, siapapun. aku pernah merasakan menjadi care-taker bagi seseorang dengan emosi yang labil. yang aku selalu lakukan adalah mengelus dada dan berharap ia akan segera sembuh. hingga dia meledak menjadi sebuah percikan menjengkelkan, dan aku si care-taker couldn't take it anymore. aku tidak ingin hal itu terjadi padaku, padamu. aku tidak ingin kamu pergi. walau kehadiranmu selalu dalam sebentuk percakapan di udara kamu telah dapat merekatkan kembali serpihan bernama hati yang nyaris aku abaikan keberadaannya. aku tidak ingin kamu pergi...
aku hanya tidak ingin kamu pergi. sehingga aku selalu berusaha kuat melawan diriku yang berkata bahwa aku akan merepotkanmu dan kamu akan pergi tidak lama lagi.
tanpa kamu menolongku untuk melakukannya. karena aku hanya bisa memendamnya sendiri.
agar kamu tidak pergi.
Ilalang,
13 Desember 2017
Bandung, 01:31
No comments:
Post a Comment