sampailah aku pada ujung tebing setelah ku menetap dan berkelana di bukit penuh kenangan ini. tebing yang sesungguhnya tak ingin kujumpai, namun inilah kenyataannya, aku telah sampai.
dua puluh satu bulan sungguh bukan waktu yang sebentar, apalagi diselingi perpisahan dan pertemuan kembali, tanpa kemana-mana, tanpa ada perubahan untuk bisa maju bersama-sama. kamu melaju sendiri, dan aku merasa sendiri. aku tidak bilang bahwa dua puluh satu bulan kemarin adalah sebuah perjalanan yang sia-sia. namun juga bukan yang terbaik, karena sebuah hubungan yang terbaik adalah yang bisa bertahan dan tidak saling menyakiti, eventually. sebuah buku penuh dengan mimpi-mimpi dan to-do-list di masa depan harus ditutup. i think i had enough for him.
ya, kami adalah keegoisan yang tidak bisa kami redam.
niki once told me, "mental illness is not an excuse to treat people like a crap", walaupun aku tidak merasa menjadi crap, ya... aku juga merasa tidak diperlakukan dengan baik sebagai wanita. dan akupun sebagai wanita memiliki kadar kecemburuan yang membabi buta. bukan tanpa alasan dan rasanya tak perlu kujelaskan alasannya, alasan itu akan selalu kuingat untuk diriku sendiri. jika sebuah hubungan sudah sampai pada titik saling menyakiti dan tidak peduli jika sudah menyakiti hati pasangannya, itulah titik dimana aku rasa untuk apa lagi mempertahankan sebuah janji di masa depan, bahkan janji yang pernah dibuatpun kerap kali dilanggar. saat aku bercerita pada Al bahwa aku dan bukit sudah selesai, dia kaget bukan main, ia bilang aku dan bukit sudah cocok. namun setelah kujelaskan alasannya, Al menambahkan kesimpulannya. "kamu dengan bukit itu cocok, namun tidak pas".
entahlah, yang benar-benar pas itu yang seperti apa. karena setauhku pasti ada saja hal yang tidak kita sukai dari pasangan kita. namun aku tahu betul, dimana batasku untuk memaklumi dan berkata "sudah cukup". aku tidak membenci bukit, aku peduli padanya, walau sesungguhnya melupakannya bukan hal yang mudah, kalau kata ST12, butuh waktuku seumur hidup~ hahaha. tapi ya, aku harus melangkah maju. begitupun dirinya. yang kutahu, dia sudah tumbuh menjadi pria pekerja keras berprestasi yang disayang oleh banyak orang. seharusnya dia tidak lagi merasa kesepian dan tugasku sudah selesai.
fase dewasa awal-dewasa madya ku lalui dengannya yang juga sedang peralihan antara remaja akhir-dewasa awal. tentu pergejolakan emosi, problematika, visi, cara pandang, cara menyelesaikan masalah menemui titik hantamnya sendiri, dan baru kusadari, yang kita lakukan setengah tahun terakhir hanyalah meneruskan kebiasaan dan bertahan. akupun kasihan pada bukit yang harus menghadapi aku, yang merepotkan ini, menjadi tambahan beban pikirannya. sehingga sempat aku berfikir "aku terlalu cepat bertemu dengan bukit". sesunggunya disitulah aku paham makna save the best for the last.
tapi dunia nampaknya tidak membiarkanku terlarut dalam drama yang berlarut-larut. perspektif dibalut quotes-quotes tumblr ataupun puisi-puisi sendu lang leav. kesakitan itu bukan untuk dinikmati, namun disembuhkan, walau 'it's okay to be sad'. aku sudah berulang kali terjatuh dan selalu mendapatkan caraku untuk bangkit (tidak pernah jauh dari pertolongan-Nya tentunya). aku harus terus bergerak maju. buku-ku dengan bukit sudah kututup namun masih kubawa, belum dapat kutinggalkan di perpustakaan. namun suatu saat mungkin bisa dan akan menjadi buku tua favoritku.
aku tidak mau mempersulit perpisahan ini dan menjadi beban di hatimu (juga hatiku)
"terima kasih bukit untuk pelajarannya, waktunya, dan segala hal pada dua puluh satu bulan of a hella sweet roller coaster ride. kamu lelaki yang baik, aku bangga padamu, semoga bahagia selalu. jangan cepet-cepet kalo Sholat :)) cawang, bawang, bangbayang!"
aku tidak mau mempersulit perpisahan ini dan menjadi beban di hatimu (juga hatiku)
"terima kasih bukit untuk pelajarannya, waktunya, dan segala hal pada dua puluh satu bulan of a hella sweet roller coaster ride. kamu lelaki yang baik, aku bangga padamu, semoga bahagia selalu. jangan cepet-cepet kalo Sholat :)) cawang, bawang, bangbayang!"
---
terima kasih untuk lautan yang telah menangkapku ketika terjatuh dari tebing di ujung bukit. semoga aku bisa tenggelam bersamamu untuk selamanya dan tidak perlu terjatuh lagi. jangan saling menyakiti ya! :)

No comments:
Post a Comment