Pages

Friday, January 5, 2018

jumpa yang kian mahal

pertemuan denganmu itu sangat mahal, dalam arti sebenarnya, dan kiasan.

semenjak ibuku berkata "uang mah bisa dicari, tapi kesempatan mungkin tidak datang dua kali" aku jadi percaya bahwa uang itu bukan segalanya (walaupun segalanya dibeli pakai uang). aku tidak pernah merasa menyesal untuk menyisihkan uangku untuk menemuimu yang jauh disana, atau sekedar membuat sesuatu untukmu walau mengeluarkan biaya. seperti ulang tahunmu kemarin, walaupun aku sudah membelikanmu kue ulang tahun lengkap dengan lilin, kamu mematikan kameramu saat kita videocall. 

walau kamu bilang semua pemberianku kau simpan dan kamu suka, tapi nampaknya itu bukan sesuatu yang berarti untukmu, tidak membuatmu bahagia atau makin mencintaiku. sejak itulah aku berpikir bahwa kamu bukan tipe orang yang suka dibuatkan sesuatu agar kamu bisa bahagia. saking sibuknya mencari-cari apa yang bisa membuatmu merasa senang denganku, aku sampai lupa bertanya pada diriku, apa yang membuatku senang denganmu?

kamu pernah bertanya mengenai apa yang membuatku tidak senang denganmu sebagai bahan introspeksi, namun, tahukah kamu hal yang membuatku senang denganmu?

kamu adalah sesuatu yang membuatku hidup, membuatku merasa aku ada untuk seseorang. setelah sering kali aku mengatakan bahwa aku kesepian di dunia yang luas ini, di ribuan teman sosial media, aku selalu kesepian. tidak ada yang mengajakku pergi menonton atau sekedar ngopi dan berbincang-bincang. Dan kamu, kamu adalah satu-satunya yang mau melakukan itu untuk aku. 

repetisi hari berakhir pada menatap kosong lima sisi, dan yang ku tahu pasti, hadirmu pada waktu selepas transisi adalah kosong yang kemudian penuh terisi.

hidupku selepas kuliah hanya berkutat pada rumah dan kantor hingga pada titik jenuhku aku mulai merasa seperti robot. bukan mengenai suasana maupun beban pekerjaan, melainkan waktu yang kuhabiskan bukan untuk diriku sendiri. satu-satunya waktu yang kupunya adalah selepas bekerja dan yang ku lakukan sebelum adanya kamu adalah segera pergi tidur agar tidak berpikir yang macam-macam. namun setelah malam itu kamu bersedia untuk merapihkan serpihan hatiku yang kubiarkan berantakan, aku merasa warna mulai menyeruak masuk kedalam hari-hari ku bersamamu.

kamu adalah taman bermain, setidaknya itu hal yang paling mungkin untuk mendeskripsikan dirimu. karena untuk mengistirahatkan hatiku, kadang kamu masih menganggapku terlalu teman, sehingga denganmu dibanding menjadi teh yang membuat rileks, kamu lebih seperti kopi yang membuatku semangat. sepulang kerja yang menghabiskan 3/4 tenagaku, aku menyapamu. terkadang ketika aku baru pulang, kamu pergi membeli makan, dan selama kamu makan sebenarnya energiku kembali tersedot karena aku menunggumu sambil tiduran. aku tidak mengerti padahal dulu kita bisa menghabiskan 5 jam untuk mengobrol kesana kemari, dan pointless, tapi tak mengapa, aku suka sekali! makin lama waktu denganmu semakin sulit dicari, semakin mahal.

bukan hanya karena kamu adalah tipikal orang yang jarang memegang ponsel, tapi juga kamrena kamu sudah mulai sibuk tugas akhir. aku ingin sekali percaya bahwa di waktu-waktumu tanpa kita berkomunikasi, kamu mengerjakan tugas akhirmu. aku sangat ingin sekali percaya. karena aku akan sedih jika halnya kamu tidak menghubungiku, padahal waktu luangmu banyak. aku sedih sekali tidak menjadi hal pertama yang kamu cari ketika kamu punya waktu luang....

aku takut kamu bosan denganku karena aku selalu ada setiap hari.
padahal kamu adalah yang selalu aku tunggu setiap hari....







ilalang,
4 desember 2018
bandung, 10:42
setelah satu hari penuh
kucoba tidak tergantung padamu

No comments:

Post a Comment