Pages

Saturday, January 27, 2018

aku ingin pindah

kota ini begitu indah dan sungguh selalu akan kurindu. disini aku merasa bahwa aku adalah seutuhnya manusia. bekerja cukup, bermain cukup, tertawa cukup, dan merasa cukup hidup. namun belakangan ada sesuatu yang terlalu dominan didalam hidupku, yaitu waktu untuk diriku sendiri yang semakin singkat. waktu denganmu yang semakin bias. aku ingin pundah saja ke jakarta, tinggal sendiri.

sebelum aku bertemu teman-temanku di mr. guan malam minggu itu, pikiranku memang sudah mulai berdebur seperti ombak muda di lautan lepas, perihal mulai seperti robotnya hidupku. seringnya waktu temu kita juga yang semakin tidak jelas. tidak seperti pertama jalan kita mulai bersilangan. serpihan itu kini kubiarkan saja berantakan lagi, tidak baik rasanya memaksamu untuk merapikannya.  aku berfikir, sudah saja terlanjur aku jadi robot yang hidup untuk bekerja hingga lelah, hingga ketika pulang aku tinggal tidur dan begitu lagi keesokan harinya. tapi aku tidak bisa melakukan hal itu di bndung, rasanya terlalu jahat jika aku mengabaikan keberadaan ibu yang menungguku untuk pulang seharian. 

kadang ketika kamu tidak menemaniku di line aku bingung aku harus melakukan apa lagi. kadang juga tersirat, mungkin aku bisa saja mabuk-mabukan jika aku mau atau sekedar merokok ketika sepi mulai melanda. tapi aku tidak mau jadi orang yang seperti itu karena hal itu dilarang agama, tapi mungkin bagi sebagian orang hal itu sungguh dapat menyembukan pikiran-pikiran yang berkecamuk di dalam kepala mereka. persis seperti suara-suara yang tidak mau berhenti mengoceh didalam kepalaku tentang aku yang butuh ditemani. imbasnya adalah aku selalu membunuh diriku sendiri didalam imajinasi, entah berdiri di ujung jurang atau membayangkan jika kematian adalah sedekat kulit dengan nadi. 

aku ingin menangis dengan suara, karena selama ini mataku selalau mencucurkan air mata namun aku tidak dapat menangis... aku tidak ingin ibu kepikiran soal kenapa aku menangis. bukan salahmu aku menangis, aku menangis karena merasa "kenapa sih aku seperti ini, kenapa aku begitu kesepian hingga harus menjadi robot untuk mengatasinya, kenapa aku begitu mudah terluka, kenapa aku begitu lemah." bahkan sempat aku tadi berpikir apakah ruang isolasi di rumah sakit jiwa bisa disewakan? setidaknya untuk aku menangis dan memukul-mukul tembok, meluapkan emosiku hingga lelah. hingga tidur adalah solusi terbaik setelahnya, bukan dengan memendam tangis dan "membunuh" diri sendiri.

aku ingin pindah agar aku bisa menangis dengan suara.






ilalang,
19.20 | bandung
27 Januari 2018

No comments:

Post a Comment